oleh

NEGERI SALAH RUMUS

JAKARTA, KICAUNEWS.COM — Negri Layaknya anak sekolah yang sedang belajar tentang ilmu pengetahuan Dasar tentang pengenalan Sumber Daya Alam, pengenalan ilmu cara memupuk tanah menjadi subur. Jika dipraktekan dan terjadi suatu kesalahan itu wajar, karena mereka masih dalam tahap proses pengenalan ilmu-ilmu dasar.

Ketika mereka tumbuh dewasa di Negri ini, jadilah mereka manusia yang memiliki kemampuan sesuai dengan disiplin ilmu masing-masing dan mereka duduk menjabat sebagai pemerintah yang katanya dipilih rakyat, lalu menerapkan ilmu yang dimiliki, mereka mulai melakukan pengelolaan sumber daya alam berdasarkan Pasal 33 Undang-Undang Dasar 1945, dengan tujuan yang sepenuhnya, yaitu sumber daya alam dikuasai dan dikelola oleh negara dengan hasil pengelolaan yang diperuntukan untuk kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia.

Namun kebahagiaan bagi seluruh rakyat Indonesia belum nampak dirasakan dan tidak ada kepastiaan kapan kebahagiaan itu ada. Sejak lama kebahagiaan bagi seluruh rakyat Indonesia sudah di cita-citakan oleh para leluhur kita dimasa penjajahan, masihkah generasi pemerintah saat ini masih berupaya di ranah harapan bukan lagi diranah perwujudan kebahagiaan rakyat.

Ini pasti ada kesalahan telak yang dilakukan oleh pemerintah, ini pasti ada yang tidak beres dalam merumuskan cita-cita bangsa Indonesia. Dimana letak ketidakberesan tersebut terlihat jelas Ketika Negri ini terus melahirkan manusia-manusia yang Korup, Melahirkan Mafia Hukum, Melahirkan Perampas Tanah, Melahirkan Mafia Minyak & Gas, Melahirkan Mafia beras dan mafia-mafia sumber daya alam lainnya.

Akankah negri ini terus melahirkan bayi-bayi setan yang kelak dewasa menjadi hantu bagi rakyat jelata.

Terkadang Kita iri melihat negri yang gersang tandus di timur tengah sana, tapi mereka kaya raya dengan satu sumber daya minyaknya. Terkadang Kita iri melihat manusia yang memiliki mata sipit di negri tirai bambu, tapi mereka memilki penglihatan luas dalam memandang dunia, sehingga mereka mampu mengekspansi ekonomi negara lain. Dan Kita terkadang iri kepada mereka bangsa eropa dan barat yg hidupnya diselimuti dengan cuaca tragis dan ekstrim, tapi mereka mampu bertahan hidup dan mereka hebat menciptakan teknologi dan menebar isu globalisasi.

Baca juga :  Upaya Polsek Purwasari Berikan Kelancaran Lalu Lintas

Kita bercermin kembali di Negri kita yang nyatanya kaya raya akan sumber daya alamnya, negri yang lahir dari hasil pertumpahan darah para pejuang, tapi kekayaan alam kita dan pengorbanan para perjuangan itu, telah di khianati oleh para pecundang-pecundang berdasi yg takut rugi kelompok dan keluarganya, akhirnya mereka rampas hak-hak kepemilikan rakyat indonesia.

Kejahatan tidak pernah libur dinegri ini, tetapi pemerintah terus banyak membuat tanggal-tanggal merah meliburkan hari untuk merefresh para koruptor tamasya keliling dunia.
Penderitaan rakyat Indonesiapun tidak pernah libur, mereka terus menempuh hidupnya yang berkesusahan, mereka berjuang untuk dapat memberi makan dan menyekolahkan anak-anaknya, bahkan dengan cara mencuri di Pasar swalayan milik kapitalispun mereka lakukan, meskipun mereka tahu resiko pencurian akan di pukuli dan dipenjarakan. Sungguh kontradiktif negri ini, yang kaya makin rakus, yang miskin makin dimiskinkan.

Terkadang kita seperti orang Asing dinegri sendiri, kita tergusur, kita terusir hingga dikriminalisasi dan mengungsi seperti suku Rohingya di myanmar lantaran konflik suatu kepercayaan.

Para cendikiawan dinegri ini sungguh pernah menuangkan pemikirannya tentang manfaat manusia berpendidikan, bahwa kita di didik dinegri ini agar tidak menjadi orang Asing di negri sendiri, dan kita di didik dinegri ini agar tidak menjadi Gelandangan dikampung halaman sendiri. Tapi semua itu tak terjawab oleh kekuasaan pemerintah, pemikiran para cendikiawan diletakan hingga usang dibelakang Gudang Istana.

Bangkit Tertindas Sebelum Negeri Ini Binasa.

Agus Harta Yakusa

Editor : Rahmat Saleh

Print Friendly, PDF & Email
Bagikan :

Komentar

Berita Terbaru