oleh

Bukan Hanya Sang Diplomat Yang Handal, Haji Agus Salim  Pun Sang Tokoh Jurnalis Republik Indonesia

KICAUNEWS.com — Jika ada seorang Kiai yang mahir dalam diplomasi kenegaraan, dialah sosok Haji Agus Salim. Anak keempat dari pasangan Soetan Mohammad Salim dan Siti Zaenab yang dilahirkan pada tanggal 8 Oktober 1884 di Koto Gadang, Agam Sumatera Barat. Dengan nama asli Mashudul Haq yang berarti pembela kebenaran.

Kepiawaiannya di meja perundingan sudah tidak diragukan lagi serta diakui di mata dunia internasional, walau kecil perawakannya, ‘Londo-Londo’ itu takluk di tangan Haji Agus Salim dengan diplomasinya.

Atas kemahirannya dalam berdiplomasi dan penguasaannya dari berbagai bahasa asing, membuat sosok Bung Karno pun jatuh hati dan senantiasa diandalkan sebelum kemerdekaan hingga pada masa awal kemerdekaan untuk berdiri atas nama bangsa dan negara Indonesia di dunia internasional.

Tidak sampai disitu, Haji Agus Salim pun
Kemudian terjun ke dunia jurnalistik sejak tahun 1915 di Harian Neratja sebagai Redaktur II.

Setelah diangkat menjadi Ketua Redaksi, Menikah dengan Zaenatun Nahar dan dikaruniai 8 orang anak. Kegiatannya dalam bidang jurnalistik terus berkembang hingga menjadi Pemimpin Harian Hindia Baroe di Jakarta.

Kemudian Haji Agus Salim diketahui yang mendirikan Suratkabar Fadjar Asia Dan selanjutnya sebagai Redaktur Harian Moestika di Yogyakarta dan membuka kantor Advies en Informatie Bureau Penerangan Oemoem (AIPO).

Itulah Haji Agus Salim, yang dibesarkan dan bersekolah khusus anak-anak Eropa di Europeesche Lagere School (ELS) kemudian berlanjut di Hogere Burgerschool (HBS) di Batavia dan lulus pada tahun 1903.

Ketika lulus, Haji Agus Salim menjadi lulusan terbaik di HBS se-Hindia Belanda. Dalam usia muda, sudah menguasai sedikitnya tujuh bahasa asing; Belanda, Inggris, Arab, Turki, Perancis, Jepang, dan Jerman.

Pada masanya, ia termasuk anak orang berada, karena ayahnya bekerja sebagai kepala jaksa di Pengadilan Tinggi Riau.

Dilihat dari sejarahnya, pihak ayah Agus Salim bertalian darah dengan orang-orang terdidik dari strata sosial atas. Kakeknya dari pihak ayah yakni Abdur Rahman Dt. Rangkayo Basa adalah jaksa tinggi di Padang.

Dari sisi pertalian darah secara religius, ayah dari kakeknya, Tuanku Imam Syekh Abdullah bin Aziz seorang ulama panutan di Koto Gadang. Dari pihak ayahnya itu pula Salim juga bertalian darah dengan Syekh Khatib al-Minangkabawy.

Tokoh yang juga lahir di Koto Gadang ini adalah Imam dan Guru Besar Madzhab Syafii di Masjid al Haram di Mekkah yang sudah bermukim di Mekkah sejak 1876.

Itulah sepenggal cerita sejarah sosok tokoh Haji Agus Salim.

Sumber : berbagai Sumber dari internet

Print Friendly, PDF & Email
Bagikan :

Komentar

Berita Terbaru