oleh

PRIHATIN DENGAN TINGGINYA KEKERASAN PEREMPUAN DAN ANAK H.JEJE ANGKAT BICARA

Pangandaran, Kicaunews.com – maraknya kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) juga anak anak yang sering kali menjadi sasaran di tengah persoalan keluarga bahkan di lingkungan sekolah, di mana perempuan kaum lemah ini juga anak anak yang seharusnya di lindungi ,

khususnya di Kabupaten Pangandaran, pemda serius menaggapi hal tersebut.Dari beberapa kasus,SEPERTI pelecehan seksual pada anak dan kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT), semuanya membuat prihatin masyarakat.Hal ini harus secepatnya ditindaklanjuti oleh dinas terkait, sehingga kasus serupa tidak terulang kembali.

Bupati Pangandaran, H. Jeje Wiradinata  pun angkat bicara, usai melakukan kunjungan kerja dan ekspose Dinas KBP3A di Aula Desa Parigi

“Saat ini Pemkab Pangandaran sedang berkonsentrasi dalam upaya menurunkan laju pertumbuhan penduduk, angka kelahiran perlindungan anak dan pemberdayaan perempuan. “ungkapnya.

Menurutnya, penurunan laju pertumbuhan penduduk dan penurunan angka kelahiran bayi itu yang paling penting, namun data yang ada masih belum valid dan akurat, masih sulit memperoleh data riil berapa JUMLAH masa subur, di mana saja dan bagaimana kondisinya .

terkait hal tersebut , kita upayakan data yang akurat secepatnya, ”ungkap JEJE”.

Di mulai dari keluarga ,sekolah, dan tempat belajar lainya mari kita  bangun kesadaran, komunikasi yang baik   serta beri pemahaman dan pendidikan kepada putra putri kita agar lebih peka dengan lingkungan sekitar , lanjut JEJE.

Masih di tempat yang sama, Kepala Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Tavian Soekartono, S.E, pada awak media  mengatakan, secara umum kekerasan terhadap perempuan terjadi akibat dua faktor utama, faktor kultur dan struktur. Keduanya saling mempengaruhi dan saling memperkuat sehingga penanggulangan masalah kekerasan terhadap perempuan memerlukan komitmen bersama untuk secara sungguh-sungguh, sistematis dan berlanjut dalam penanggulangan nya.

Baca juga :  Atalia Praratya Ridwan Kamil, Gerakan Tanam Dan Pelihara 50 Juta Pohon Di Ciburial

“Faktor kultur ini bermula dari nilai-nilai dan norma-norma yang menempatkan laki-laki sebagai pihak pengambil keputusan yang memiliki kekuasaan atau power, serta merupakan pihak yang mengevaluasi dan memonitor segala yang dimiliki dan dilakukan ditangani perempuan”, ucapnya

Sementara faktor struktural yang dapat menjadi penyebab kekerasan terhadap perempuan dan anak, menurut Tavian, berasal dari institusi atau lembaga yang dibangun untuk menyelenggarakan kehidupan bersama.

Jadi kesimpulannya, lanjut Tavian lagi,  kekerasan terhadap perempuan merupakan bagian dari kekerasan terhadap kemanusiaan. Selain itu, penyebab kekerasan adalah kultur dan struktur, hal ini perlu penyadaran kesetaraan dan keadilan sifat dan prilaku bagi setiap orang sehingga kekerasan terhadap orang dapat dihapuskan. Juga kontroversi penyelesaian kasus-kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak harus dilakukan dengan memperbaiki substansi, struktur, dan budaya hukum.

Masih kata Tavian, perlunya pendampingan terhadap perempuan para korban kekerasan paling tidak harus mencakup empat tahap yaitu penyadaran, penyembuhan, perlindungan. Hal ini untuk mengantisipasi kekerasan pada perempuan dan anak yang masih relatif tinggi di  Pangandaran.

“Untuk tahun ini kita targetkan penurunannya hingga 0,2%,” pungkas Tavian.(EVA)

Editor : Rahmat Saleh

Print Friendly, PDF & Email
Bagikan :

Komentar

Berita Terbaru