oleh

Hariman Siregar : Misteri Peristiwa Malari

Jakarta, Kicaunews.com — Peristiwa Malapetaka 15 Januari 1974 (Malari) mencuatkan nama Hariman Siregar sebagai tokoh pergerakan mahasiswa kala itu. Yang bergerak untuk menentang dominasi modal asing dalam sistem ekonomi Indonesia. Namun, ekses dan efek domino politik kekerasan yang menimbulkan banyak korban hingga kini masih misterius. Tercatat sedikitnya 11 orang meninggal, 300 luka-luka, 775 orang ditahan. Sebanyak 807 mobil dan 187 sepeda motor dirusak/dibakar, 144 bangunan rusak. Sebanyak 160 kg emas hilang dari sejumlah toko perhiasan.

Politik kekerasan di Indonesia sejak era kemerdekaan hingga reformasi 1998 telah menelan jutaan orang, namun peristiwa tersebut hanya dapat dirasakan , selalu diselimuti kabut dalam konteks pengungkapannnya. Berita di media massa hanya mampu mengungkap data dan fakta yang bisa dilihat secara kasat mata. Namun penyebab utama termasuk di dalamnya tokoh-tokoh yang terlibat sangat susah untuk diungkap secara terang benderang.

Setidaknya ada dua peristiwa yang bisa kita amati dalam peristiwa sejarah Malari, yang pertama adalah demonstrasi mahasiswa yang dipimpin oleh Ketua Dema (Dewan Mahasiswa) UI Hariman Siregar terhadap kedatangan Perdana Menteri Jepang Kakuei Tanaka, sebagai bentuk protes atas kekuatiran dominasi modal asing di Indonesia, khususnya Jepang. Yang kedua adalah peristiwa kerusuhan dan amuk massa disertai pembakaran yang terjadi di beberapa titik di Jakarta.

Apakah peristiwa demonstrasi dan kerusuhan massa saat Malari merupakan peristiwa yang saling terpisah, atau sebuah peristiwa yang saling kait-mengkait. Sebagai catatan, untuk menjadi Ketua Dema UI, seorang Hariman juga didukung oleh kekuatan-kekuatan politik di luar kampus. Interaksi politik dan relasi politik tentunya memiliki sedikit banyak pengaruh pada keputusan politik seseorang, termasuk dalam aksi politiknya. Pertanyaan yang menggelitik adalah apakah  peristiwa Malari seorang Hariman Siregar benar-benar tokoh mahasiswa yang clean dan clear dalam aksi politiknya, atau sebenarnya merupakan bagian dari skema gerakan politik yang sistematis, atau tanpa sadar gerakan mahasiswa saat itu telah ditunggangi kepentingan-kepentingan elit politik.

Baca juga :  Defisit dan Kemerosotan Ekonomi Dalam Asumsi APBNP 2016, Fraksi Partai Gerindra Ingatkan Pemerintah

Faktanya, usai peristiwa Malari, selain Hariman Siregar dijebloskan ke penjara, Jenderal Soemitro sebagai Pangkopkamtib dicopot, lembaga Aspri Presiden (Ali Moertopo, Soedjono Humardani) dibubarkan dan Kepala BAKIN Soetopo Juwono di “dubeskan”. Kemudian muncul analisis tentang friksi elite militer, khususnya rivalitas Jenderal Soemitro-Ali Moertopo. Dalam buku Ramadhan KH (1994) dan Heru Cahyono (1998) terlihat kecenderungan Soemitro untuk menyalahkan Ali Moertopo yang merupakan rivalnya dalam dunia politik tingkat tinggi. Soemitro mengungkapkan, Ali Moertopo dan Soedjono Humardani “membina” orang-orang eks DI/TII dalam GUPPI (Gabungan Usaha Perbaikan Pendidikan Islam).

Sebaliknya, “dokumen Ramadi” mengungkap rencana Soemitro menggalang kekuatan di kampus-kampus, “Ada seorang Jenderal berinisial S akan merebut kekuasaan dengan menggulingkan Presiden sekitar bulan April hingga Juni 1974. Revolusi sosial pasti meletus dan Pak Harto bakal jatuh”. Ramadi saat itu dikenal dekat dengan Soedjono Humardani dan Ali Moertopo. Tudingan dalam “dokumen” itu tentu mengacu Jenderal Soemitro. Sementera nasib Ramadi lebih mengenaskan, setelah ditangkap, dia meninggal secara misterius dalam status tahanan.

Catatan bagi kita adalah, secara logika kekuatan gerakan mahasiswa tidak mungkin mampu menggerakan rakyat secara massif apalagi menggalang untuk melakukan kerusuhan. Karena untuk menggerakan rakyat secara massif dan sistematis membutuhkan penggalangan, sarana dan prasarana yang memadai, termasuk media massa, pendanaan dan logistik. Meski kita juga tidak bisa pura-pura naif  untuk mengatakan bahwa gerakan mahasiswa benar-benar murni, sejernih air pegunungan.

Sebagian sejarah Orde Baru, termasuk peristiwa Malari 1974, memang masih gelap.

Penulis : Ali Sodikin

Editor   : Rahmat Saleh

Print Friendly, PDF & Email
Bagikan :

Komentar

Berita Terbaru