oleh

Sarwo Edhie Wibowo, Prajurit Pemberani Penumpas Gerakan G30S/PKI

Jakarta, Kicaunews.com — Julius Pour dalam buku Gerakan 30 September; Pelaku, Pahlawan & Petualangan, menggunakan ungkapan Belanda eenmalig, hanya sekali saja untuk menggambarkan kejadian bersejarah. Dimana Letnan Jenderal (Purn) Sarwo Edhie Wibowo tampil. Yakni usaha kudeta G30S/PKI, yang berhasil dia gagalkan dan situasi itu kemudian menciptakan kelahiran Orde Baru. Peran yang sangat menentukan, Kolonel sarwo Edhie Wibowo saat itu sebagai Komandan RPKAD (Kopassus). Dalam detik-detik paling menetukkan inilah, Sarwo Edhie Wibowo lantas muncul di pentas sejarah secara pas. Dia langsung berbuat sesuai peran yang diperintahkan kepada dirinya. Dia segera membebaskan RRI, mengamankan Pangkalan Udara Halim Perdanakusumah dan bahkan terus dilanjutkan dengan menumpas aksi pembangkangan dari para pengikut Gerakan 30 September di Jawa Tengah, Jawa Timur dan Bali.

Eenmalig, suku kata bahasa Belanda ini melukiskan segala sesuatu sering terjadi hanya sekali. Karena itu, setiap orang harus siap untuk bisa muncul dalam panggung sejarah dalam waktu dan saat yang tepat. Suku kata tersebut sangat cocok untuk melukiskan kehadiran Sarwo Edhie Wibowo. Khususnya dalam hari-hari panjang, pada saat penumpasan terhadap Gerakan 30 September serta perjuangan menegakkan dan menyelamatkan Indonesia dari ancaman komunisme.

Kemunculan dengan peran yang sangat menentukan dalam halaman sejarah Republik ini, namun hubungannya dengan Soeharto tidak selalu harmonis. Perlahan, secara sistematis, Sarwo Edhie tersingkirkan dari lingkaran Soeharto. Namun, meski sering diperlakukan tidak adil, sebagai prajurit pejuang Sarwo Edhie tidak pernah mengecam Soeharto. Kasus yang pernah terjadi dalam hubungan antara Sarwo Edhie dengan Ahmad Yani. Karena kesalahan anak buahnya, Sarwo Edhie pernah diturunkan pangkatnya dari Kapten menjadi Letnan. Berkat nasehat ibunya, maka keputusan bulat yang menjadi pegangan hidupnya, bahwa  menjadi tentera bukan untuk mengejar pangkat, tetapi untuk mengabdi kepada Tanah Air, Bangsa dan Negara.

Baca juga :  Latihan Tim Honda DBL Indonesia Ditutup Pelatihan dari Jordan Lawley

Agus Harimurti Pewaris Darah Pejuang

Keputusan Agus Harimurti Yudhoyono menjadi Calon Gubernur DKI Jakarta meski sudah 16 tahun mengabdi di dunia militer tentu menimbulkan silang pendapat. Di saat karier militernya sedang sebagai perwira menengah sedang dipuncak semangat dan produktifitasnya, seorang Agus tanpa ragu meninggalkan zona nyaman, tinggal duduk tenang, mengikuti aturan dan skema Mabes TNI, maka pangkat sebagai Perwira Tinggi sudah menantinya. Keputusan tersebut sudah sangat tepat, mengingat Jakarta membutuhkan kepemimpinan baru yang berpikir jernih dan sistematis, kepemimpinan yang sadar akan fungsi negara bangsa, kepemimpinan yang  peduli pada nasib rakyat Jakarta yang selama ini menjadi anak tiri dalam penerapan pembangunan di DKI Jakarta.

Kita percaya  Agus Harimurti Yudhoyono akan memimpin Jakarta dengan bijaksana, adil dan amanah untuk kehidupan seluruh warga Jakarta dari semua elemen, yang kaya dan miskin, yang berbeda suku, ras, dan agamanya, yang mayoritas dan minoritas dapat hidup nyaman, saling menghormati dan menghargai, karena Agus selain tentara profesional yang berprestasi dalam  tugas dan akademisnya, Agus Harimurti mewarisi darah SBY seorang ahli strategi politik yang demokratis, politisi cemerlang mantan Presiden RI ke 6 dan darah prajurit pejuang dari Kakeknya Sarwo Edhie Wibowo sang penumpas PKI.

Penulis : Ali Sodikin

Editor   : Rahmat Saleh

Print Friendly, PDF & Email
Bagikan :

Komentar

Berita Terbaru