oleh

Martimus Amin, ‘Makar Demi Ahok’

Jakarta, kicaunews.com — Penangkapan para tokoh masyarakat dan aktifis oleh kepolisian dengan tuduhan makar, harus dicermati secara jeli oleh kita senua sebagai suatu skenario licik rezim untuk membendung pergerakan para ulama dan aktifis Islam yang tergabung dalam GNPF MUI menuntut penyelesaian kasus penistaan agama oleh Gubernur Basuki Tjahaya Purnama (Ahok).

Para tokoh dan aktifis  ditangkap hanya sebagai sasaran antara, tetapi laras sasaran sebenarnya kepada ulama dan aktifis Islam GNPF MUI.

Patut diduga sebab kasus Ahok yang akan disidangkan dalam waktu dekat ini telah didesain unuk membebaskan Ahok. Hal ini juga terbaca oleh parpol pendukung Ahok, karena itu mereka tidak malu-malu lagi mempertontonkan dukungan sepertu menggelar acara Parade Kita Indonesia.

Jika Ahok bebas tentu saja kekecewaan dan gelombang aksi umat Islam semakin membesar menuntut pertanggungjawaban rezim, yang tidak mustahil dapat menggoyahkan kursi empuk kekuasaannya. Untuk itulah Rezim mengantisipasii dengan skenario ‘makar’.

Tudingan makar jelas-sangat mengada-ada. Aspirasi dan kritik kritis bukan tindakan yang diharamkan di dalam kehidupan negara demokrasi. Negara komunis saja tidak sembarang menangkapi warganya tanpa payung  hukum ‘UU Subversib’

Di zaman Orla ketentuan itu diatur dalam UU No. 11 Tahun 1963 yang diadopsi dari negara komunis Soviet. Kemudian UU diambilalih oleh rezim Orba untuk memberangus lawan-lawan politiknya. UU ini dihapuskan pada masa presiden Habibie.

Loh kenapa rezim saat ini tanpa payung hukum begtu beraninya menangkapi warganya dengan tuduhan makar.  Jawabnya ‘ makar demi ahok’.***

Print Friendly, PDF & Email
Bagikan :

Komentar

Berita Terbaru