oleh

Tito Karnavian (KAPOLRI) Berulang Tahun ke 52 Tahun

Jakarta, Kicaunews.com – Kapolri berulang tahun ke 52 Tahun. Lahir tahun 1964 pada 26 Oktober, menjadi catatan hidup yang tak terbayangkan. Betapa tidak? Di usia inilah Jendral Polisi ini mengemban tugas negara. Mantan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) kini tengah diuji kepemimpinannya.

Ketika Presiden Joko “Jokowi” Widodo telah mencalonkan Tito sebagai Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri). Berdegup hatinya. Ia pun akui kala itu Presiden Jokowi telah menyuratinya.

“Saya sudah menerima surat dari Pak Presiden. Isi surat itu menyebut Presiden meminta pencalonan Komjen Tito Karnavian dan hanya satu-satunya calon Kapolri menggantikan Jendral Badrodin Haiti,” ujar pria yang akrab disapa Akom itu.

DPR akan segera memproses hal tersebut yang dimulai dengan rapat pimpinan untuk menyampaikan pencalonan Komjen Tito.

Siapa Tito Karnavian sebenarnya?

Berikut 5 hal yang perlu anda ketahui tentang  Kapolri ini yang telah memasuki usia 51 Tahun.

Jenderal yang gemar sekolah

Tito adalah ulusan terbaik dari Akademi Kepolisian (Akpol) lulusan tahun 1987. Untuk prestasinya itu, dia menerima bintang Adhi Makayasa.

Pada 1993, Ia kemudian melanjutkan pendidikan di University of Exeter di Inggris dan meraih gelar MA dalam bidang Police Studies.

Pada 1996, ia menyelesaikan pendidikan di Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK) di Jakarta dan meraih S-1 dalam bidang Ilmu Kepolisian, serta mendapatkan Bintang Wiyata Cendekia sebagai lulusan terbaik PTIK.

Selain itu Tito Karnavian juga menyelesaikan pendidikan di:

Massey University Auckland di Selandia Baru dalam bidang Strategic Studies pada1998.Rajaratnam School of International Studies, Nanyang Technological University, Singapura, sebagai kandidat PhD dalam bidang Strategic Studies pada 2008.

Pemburu teroris

Nama Tito mulai dikenal luas saat ia bergabung di tim Detasemen Khusus 88. Pada 2005, Ia dan tim Densus saat itu berhasil membekuk teroris kakap Dr Azahari.

Baca juga :  Antisipasi Banjir, Brimob Jabar Cek Debit Air Sungai Cibabat Kedawung

Pada tahun 2007, Tito dan unit Densus 88 Antiteror kembali berhasil menangkap puluhan tersangka yang masuk ke dalam Daftar Pencarian Orang (DPO) di Kecamatan Poso.

Pada 2009, ia berhasil melumpuhkan Noordin M Top di Solo. Ia kemudian dipromosikan menjadi Kepala Densus 88 setelah penangkapan tersebut.

Pada tahun ini, Tito akhirnya ditunjuk menjadi Kepala BNPT. Menurut sumber Rappler di lingkungan kepolisian, Tito ikut berburu Santoso di lapangan pada April lalu.

Pembekuk Tomy Soeharto

Tito juga dikenal karena perannya sebagai pemimpin tim yang menangkap Hutomo “Tommy”Mandala Putra, anak dari mantan Presiden Soeharto.

Penangkapan Tommy saat itu terkait pembunuhan Hakim Agung Safiuddin Kartasasmita.

Tito saat itu menjabat Kepala Satuan Reserse Umum dengan pangkat Ajun Komisaris Besar dengan memiliki 23 anggota. Tim Kobra berhasil menangkap Tommy di tempat persembunyian Jalan Maleo II Blok JB, Bintaro Jaya, Tangerang, Banten, pada 28 November 2001.

Jumlah harta kekayaan: Rp 11 miliar

Menurut laman kpk.go.id, Tito melaporkan Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara terakhir pada 20 November 2014. Tepatnya pada saat ia masih menjabat sebagai Asisten Perencanaan Umum dan Anggaran Kapolri.

Dalam laporan tersebut, Tito tercatat memiliki harta tidak bergerak berupa tanah dan bangunan senilai Rp11.297.741.000.

Harta tak bergerak itu antara lain tanah dan bangunan di wilayah Jakarta Selatan, masing-masing seluas 307 meter persegi dan 207 meter persegi. Tanah itu diperoleh pada tahun 2003 dari hasil sendiri dan hibah dengan NJOP Rp5.273.397.000.

Ada juga bangunan seluas 120 meter persegi di Singapura yang diperoleh dari hasil sendiri pada 2008 dengan Nilai Jual Obyek Pajak (NJOP) Rp 3.000.000.000.

Sementara itu, untuk harta bergerak, tidak tercatat laporan tentang alat transportasi. Hanya dilaporkan bahwa ada harta bergerak senilai Rp 160.000.000, yang di antaranya terdapat logam mulia senilai Rp150.000.000.

Baca juga :  Ini Penjelasan kapolri Terkait Terif Kepengurusan Surat Kendaraan

Tito juga melaporkan harta berupa giro dan setara kas senilai Rp 1.827.719.823. Ia tercatat tidak memiliki piutang.

Total harta Tito tercatat Rp13.285.460.823. Namun, dia memiliki utang sebesar Rp 2.993.785.000. Dengan demikian, total harta kekayaan Tito adalah Rp 10.291.675.823.

Kontroversial: Di antara kelompok LGBT dan FPI

Tito bukan jenderal yang mendukung diskriminasi terhadap LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender).

Saat menjabat sebagai Kepala Kepolisian Daerah Metro Jakarta Raya, Tito mengatakan LGBT adalah warga negara yang juga wajib dilindungi. “Dalam artian dilindungi dari tindak kekerasan,” katanya.

Menurut Tito, LGBT adalah masalah kompleks yang meliputi aspek sosial, hukum, dan sosiologi yang menimbulkan pro-kontra di masyarakat. “Tidak hanya kelompok LGBT atau yang mendukung yang harus dilindungi, tapi masyarakat yang kontra juga harus dipikirkan dan diakomodasi,” tutur Tito.

Namun di sisi lain, Tito dikenal dekat dengan organisasi-organisasi masyarakat yang anti-LGBT, seperti Front Pembela Islam.

Seperti yang dilansir pernah menyaksikan pidato Tito Karnavian di acara nonton bareng film G 30S/PKI yang diselenggarakan oleh FPI. Tito disambut oleh jemaat dan ditempatkan di podium utama.

Brantasnews.
( A Widhy )

Print Friendly, PDF & Email
Bagikan :

Komentar

Berita Terbaru