oleh

Popularitas Ahok Merosot Karena Ucapan Bukan Black Campaign

Oleh. Erwin H. Al Jakartaty, Koordinator Majelis Kajian Jakarta (MKJ)

Kamis, 6 Oktober 2016, Jakarta gempar dengan ucapan Ahok dalam suatu pertemuan dengan Masyarakat Kepulauan Seribu terkait salah satu ayat Alquran, Surat Al Maidah ayat 51. Tak ada yang salah memang jika menyimak video youtube rekaman acara tersebut. Tapi Petahana dalam Pilgub DKI Jakarta 2017 nanti ini memang melakukan blunder terbesarnya.

Menyentuh ranah sensitif yang akan menuai gelombang besar penolakan terhadap dirinya bukan hanya di ibukota tetapi se Indonesia. Terlepas di plintir atau tidak soal penafsiran ucapannya itu, yang jelas tindakan kontroversi yang kerap dilakukannya, kali ini akan menuai badai lebih besar dan menjadi kegelisahan ummat.

Berkali-kali memang Ahok menegaskan dirinya tak peduli dengan merosotnya hasil survey terkait popularitasnya sebagai calon unggulan. Yang penting baginya adalah bekerja sebaik-baiknya memimpin Jakarta dgn gaya dan caranya yang unik atau bisa dikatakan nyeleneh dari pakem kebiasaan para pemimpin pada umumnya.

Dia bukan tipikal orang yang memimpin dengan hati tetapi cenderung banyak bicara ketimbang bekerja.

Setiap pemimpin selalu memiliki para pengkritisi, setiap penguasa selalu punya oposisi. Mereka adalah pihak yang tidak setuju dengan kebijakan para pemimpin dalam berkuasa. Itupun biasanya berasal dari kalangan lawan politiknya. Pun demikian dengan sang petahana pilgub DKI Jakarta ini.

Namun para kritikus dan oposan Ahok cukup banyak bahkan teramat banyak dan berasal dari berbagai kalangan. Tak hanya sebagian politisi dan ulama yang berseberangan, berbagai profesi pun turut serta ramai-ramai menentang Ahok, mulai dari Advokat sampai Ibu rumah tangga bahkan elemen INDONESIA BERGERAK yang notebene mrupakan kalangan menengah, yang sebenarnya kurang peduli dengan hingar bingar dunia politik pun turun ke jalan menentang Sang Petahana yang banyak bicara dan sedikit bekerja itu.

Baca juga :  Secara Politik, MKJ : Wajar Orang Betawi Tolak Ahok

Karena terbukti pembangunan Jakarta yg dipimpinnya sekarang adalah program lanjutan para gubernur sebelumnya, tak ada yang baru kecuali soal qlue. Tetapi kebiasaannya memelintir sesuatu berimbas bahwa semua adalah hasil kerjanya. Padahal sejatinya kondisi progres pembangunan ibukota hari ini adalah hasil propaganda Rezim Balaikota semata.

Masalah ibukota terbesar saat ini bukanlah soal kriminalitas, rawan banjir, kemacetan, urbanisasi, banyaknya warga miskin, penggusuran atau apapun. Masalah terbesar justru gejolak sosial yang muncul setiap kali Ahok mengeluarkan statemen nya. Ini Gubernur paling bermasalah, paling banyak bicara dan paling banyak marah-marah dalam kepemimpinnya. Hebatnya lagi gaya itu menciptakan banyak fans fanatik yang membela sang Gubernur, setiap menimbulkan aksi penentangan akibat kebijakannya.

Ahok adalah fenomena nyata. Fenomena yang menjadi pembelajaran dalam seni kepemimpinan publik. Pemimpin yang adil dan bijaksana itu meminimalisir ego dan kemarahan bukan diumbar disembarang tempat. Dengan lain perkataan pemimpin itu harus bisa menyembunyikan kegalauan hatinya, apapun masalahnya. Yang disampaikan Ahok dihadapan warga kep. Seribu itu bukan sekedar curhat, tapi sebuah kepanikan seorang pemimpin yang paranoid, arogan, dan merasa benar sendiri, gaya dari seorang megalomania leader.

Reaksi yang muncul, dengan banyaknya pengaduan yang masuk ke Polisi pun tidak sedikit dan akan terus bertambah. Tiada upaya untuk menetralisir keadaan dengan merendahkan sikap alih-alih minta maaf, tetapi justru upaya pembenaran atau berkelit tetap saja dilakukan Ahok dan Pendukungnya. Sebaiknya simpan hal tersebut nanti dipengadilan, itupun jika kepolisian dan rezim Jokowi berkenan meneruskan hal itu. Ahok tak menyadari bahwa kasus ini sangat serius dan akan semakin menggerus popularitasnya.

Bahkan tidak menutup kemungkinan dia akan terjungkal di putaran pertama pilgub nanti.

Baca juga :  Polsek Ciamis Kembali Gelar Operasi Yustisi

Jadi jika para pendukungnya mengatakan ada black campaign yang dilakukan lawan-lawan Ahok dalam masa proses pilgub ini, jelas itu argumen yang sangat keliru. Merosotnya popularitas Sang Petahana kali ini bukan oleh sebab apa-apa, tetapi karena ucapannya sendiri . (Red)

Print Friendly, PDF & Email
Bagikan :

Komentar

oleh

Popularitas Ahok Merosot Karena Ucapan Bukan Black Campaign

Oleh. Erwin H. Al Jakartaty, Koordinator Majelis Kajian Jakarta (MKJ)

Kamis, 6 Oktober 2016, Jakarta gempar dengan ucapan Ahok dalam suatu pertemuan dengan Masyarakat Kepulauan Seribu terkait salah satu ayat Alquran, Surat Al Maidah ayat 51. Tak ada yang salah memang jika menyimak video youtube rekaman acara tersebut. Tapi Petahana dalam Pilgub DKI Jakarta 2017 nanti ini memang melakukan blunder terbesarnya.

Menyentuh ranah sensitif yang akan menuai gelombang besar penolakan terhadap dirinya bukan hanya di ibukota tetapi se Indonesia. Terlepas di plintir atau tidak soal penafsiran ucapannya itu, yang jelas tindakan kontroversi yang kerap dilakukannya, kali ini akan menuai badai lebih besar dan menjadi kegelisahan ummat.

Berkali-kali memang Ahok menegaskan dirinya tak peduli dengan merosotnya hasil survey terkait popularitasnya sebagai calon unggulan. Yang penting baginya adalah bekerja sebaik-baiknya memimpin Jakarta dgn gaya dan caranya yang unik atau bisa dikatakan nyeleneh dari pakem kebiasaan para pemimpin pada umumnya.

Dia bukan tipikal orang yang memimpin dengan hati tetapi cenderung banyak bicara ketimbang bekerja.

Setiap pemimpin selalu memiliki para pengkritisi, setiap penguasa selalu punya oposisi. Mereka adalah pihak yang tidak setuju dengan kebijakan para pemimpin dalam berkuasa. Itupun biasanya berasal dari kalangan lawan politiknya. Pun demikian dengan sang petahana pilgub DKI Jakarta ini.

Namun para kritikus dan oposan Ahok cukup banyak bahkan teramat banyak dan berasal dari berbagai kalangan. Tak hanya sebagian politisi dan ulama yang berseberangan, berbagai profesi pun turut serta ramai-ramai menentang Ahok, mulai dari Advokat sampai Ibu rumah tangga bahkan elemen INDONESIA BERGERAK yang notebene mrupakan kalangan menengah, yang sebenarnya kurang peduli dengan hingar bingar dunia politik pun turun ke jalan menentang Sang Petahana yang banyak bicara dan sedikit bekerja itu.

Baca juga :  Wujud Bhakti Brimob Untuk Masyarakat,  Himbau Warga Gunakan Masker Jika Keluar Rumah

Karena terbukti pembangunan Jakarta yg dipimpinnya sekarang adalah program lanjutan para gubernur sebelumnya, tak ada yang baru kecuali soal qlue. Tetapi kebiasaannya memelintir sesuatu berimbas bahwa semua adalah hasil kerjanya. Padahal sejatinya kondisi progres pembangunan ibukota hari ini adalah hasil propaganda Rezim Balaikota semata.

Masalah ibukota terbesar saat ini bukanlah soal kriminalitas, rawan banjir, kemacetan, urbanisasi, banyaknya warga miskin, penggusuran atau apapun. Masalah terbesar justru gejolak sosial yang muncul setiap kali Ahok mengeluarkan statemen nya. Ini Gubernur paling bermasalah, paling banyak bicara dan paling banyak marah-marah dalam kepemimpinnya. Hebatnya lagi gaya itu menciptakan banyak fans fanatik yang membela sang Gubernur, setiap menimbulkan aksi penentangan akibat kebijakannya.

Ahok adalah fenomena nyata. Fenomena yang menjadi pembelajaran dalam seni kepemimpinan publik. Pemimpin yang adil dan bijaksana itu meminimalisir ego dan kemarahan bukan diumbar disembarang tempat. Dengan lain perkataan pemimpin itu harus bisa menyembunyikan kegalauan hatinya, apapun masalahnya. Yang disampaikan Ahok dihadapan warga kep. Seribu itu bukan sekedar curhat, tapi sebuah kepanikan seorang pemimpin yang paranoid, arogan, dan merasa benar sendiri, gaya dari seorang megalomania leader.

Reaksi yang muncul, dengan banyaknya pengaduan yang masuk ke Polisi pun tidak sedikit dan akan terus bertambah. Tiada upaya untuk menetralisir keadaan dengan merendahkan sikap alih-alih minta maaf, tetapi justru upaya pembenaran atau berkelit tetap saja dilakukan Ahok dan Pendukungnya. Sebaiknya simpan hal tersebut nanti dipengadilan, itupun jika kepolisian dan rezim Jokowi berkenan meneruskan hal itu. Ahok tak menyadari bahwa kasus ini sangat serius dan akan semakin menggerus popularitasnya.

Bahkan tidak menutup kemungkinan dia akan terjungkal di putaran pertama pilgub nanti.

Baca juga :  Popularitas Ahok Merosot Karena Ucapan Bukan Black Campaign

Jadi jika para pendukungnya mengatakan ada black campaign yang dilakukan lawan-lawan Ahok dalam masa proses pilgub ini, jelas itu argumen yang sangat keliru. Merosotnya popularitas Sang Petahana kali ini bukan oleh sebab apa-apa, tetapi karena ucapannya sendiri . (Red)

Print Friendly, PDF & Email
Bagikan :

Komentar

Berita Terbaru