oleh

H. Entong Gendut, Sosok Tokoh Betawi Yang Berani Melawan Belanda

(Pemberontakan Petani Condet 1916)

Oleh Erwin H. Al Jakartaty

Selama Belanda menduduki Batavia (Jakarta Sekarang), dan menjadikannya pusat penguasaan nusantara dizaman penjajahan fisik dulu, nyaris tak terdengar gejolak perlawanan rakyat. Padahal terdapat banyak kisah perlawanan yang dilakukan rakyat terhadap kekuasaan kolonial Belanda di Tanah Betawi dan sekitarnya. Meski tidak berskala besar, api pemberontakan rakyat tak kunjung padam. Karena ketatnya sensor pemerintah Belanda, maka peristiwa perlawanan itu jarang terungkap. Salah satunya adalah kisah perjuangan seorang Pendekar Betawi yang kesohor yakni Haji Entong Gendut. Jagoan dari tanah Condet, Jakarta Timur, yang saat itu berada di wilayah karesidenan Jatinegara. Menurut Jakarta Ensiklopedia, pada sekitar awal tahun 1900 an dimasa zaman onderneming kolonialis Belanda, rakyat Condet yang sebagian besar adalah petani, hidup dalam tekanan massif pihak Kompeni Belanda dan para tuan-tuan tanah cina dan eropa.

Pusat kekuasaan onderneming ini bermarkas di Kampung Gedong, Pasar Rebo dan Kramat Jati. Seluruh tanah Condet yang subur karena merupakan daerah Delta sungai Ciliwung, bahkan sampai di Tanjung Timur dan Tanjung Barat, dikuasai oleh para tuan tanah. Padi, Melinjo, Salak, Singkong dan sayuran tumbuh subur disini. Penguasaan oleh para tuan tanah ini sebagai kelanjutan dari kebijakan politik etis kolonialis.

Rakyat diwajibkan membayar pajak tanah tinggi, yang ditagih oleh para mandor dan centeng yg kejam suruhan para tuan tanah. Pajak (blasting) sebesar 25 sen yang harus dibayarkan setiap minggu dinilai sangat berat oleh rakyat yang hanya tergantung dari tanah pertanian, karena harga beras masa itu hanya 4 sen per kilogram. Apabila ada penduduk yang belum membayar blasting, maka mereka akan hajar centeng dan dihukum kerja paksa mencangkul sawah-ladang milik para pemodal asing.

Menyaksikan semua penderitaan rakyat itulah, timbul kemarahan dalam diri Haji Entong Gendut. Seorang pendekar Condet yang disegani karena kealiman dan ketawadhuan-nya. Ia banyak membela para petani yang ditindas centeng2 tuan tanah. Termasuk pembelaannya thdp Taba seorang Petani Condet, yg kehilangan tanahnya setelah kalah berperkara di pengadilan Kolonial tahun 1912.

Kemarahannya yang memuncak mencapai klimaks dan kemudian disuatu pada awal Mei 1916, H. Entong Gendut memutuskan untuk membuat suatu gerakan dengan mengumpulkan seluruh rakyat Condet, terutama para petani. Dia mulai membangun kesadaran kaumnya yg tertindas oleh para tuan tanah dan pemerintah Belanda. Meski berlatar belakang Jagoan yg tidak mengenyam pendidikan formal, namun darah pejuang yang mengaliri tubuh H. Entong Gendut menjadikannya banyak mengenal dan bergaul pada para tokoh2 pergerakan nasional yang banyak bermukim di Batavia. Hasil dari interaksi dengan para aktifis pejuang pergerakan nasional itulah yg kemudian menjadikan tekadnya membulat untuk melawan penindasan.

Baca juga :  Anies Baswedan Kunjungi Djoeang AniesSandi Yang Baru Lahir

H. Entong Gendut melatih para pemuda dan petani ilmu beladiri pencak silat Betawi dan bersiap mengobarkan panji perang memimpin para petani melawan Kompeni Belanda.

Belanda melalui wedana hingga residen pun mengawasi ketat gerakan ini. Intel nya pun disebar ke kampung2 tuk dapatkan informasi.

Bentokan pun tak terhindari. Hingga akhirnya di suatu malam pada 5 April 1916, gerakan H. Entong Gendut memuncak dengan aksi nyata yang lebih berani. Momentum tercipta, tatkala berlangsung pesta meriah seorang tuan tanah eropa di Villa Nouva di bilangan Tanjung Timur. H. Entong Gendut dan pasukannya membubarkan acara tersebut. Para centeng tuan tanah bertindak mencegah, tetapi pasukan Banghaji Entong telah siap dan melakukan pernyerbuan, pesta bubar dan Villa Nouva pun terbakar.

Setelahnya pasukan Entong Gendut pun melakukan penyerbuan ke rumah Gedong di Landhuis, Kramat Jati yang yang ditempati tuan tanah bule yg zolim, Lady Lollison dan para centengnya.

H. Entong Gendut bersama puluhan pemuda Condet menyerbu simbol penguasa kolonial tsb. Maka kembali pecahlah bentrokan berdarah di Landhuis. Para Opas, polisi kolonial pun dikerahkan untuk membantu menahan serbuan. Namun pasukan opas kewalahan menghadapi serbuan ini. Gedong Panjang terbakar tetapi Lady Lollison berhasil melarikan diri diselamatkan polisi ketika para centengnya terdesak dalam penyerbuan itu.

Kemenangan perjuangan H. Entong Gendut menambah kepercayaan Rakyat, pengikutnya pun bertambah. Maka peristiwa ini dikenal dengan Pemberontakan Petani Condet. Pemerintah kolonial Belanda pun gempar. Dan pihak Goubernement (penguasa Belanda di Nusantara) di istana Rijzwiik pun menyadari jika perlawanan ini meluas, maka akan mengganggu kestabilan kolonialis Belanda di ibukota Batavia. Namun langkah damai coba dilakukan, dengan mengirim Wedana untuk menemui H. Entong Gendut di kediamannya.

Didampingi sepasukan polisi, Wedana mendatangi rumah H. Entong Gendut di Batu Ampar. Namun upaya negosiasi gagal, pengikut H. Entong Gendut melawan, sang wedana dan 3 polisi tewas dalam bentrokan tersebut.

Baca juga :  Polsek Indramayu Melaksanakan Ops Yustisi gabungan di Sport Center

Belanda bertindak cepat dengan mengirimkan bantuan pasukan marsose. Pasukan marsose ini adalah pasukan khusus yang berpengalaman dan veteran perang kolonial di Aceh. Bentrokan meluas menjadi pertempuran yang tidak seimbang dengan pasukan H. Entong Gendut.

Setelah datang bala bantuan dari Batavia, pasukan H. Entong Gendut mundur karena tidak siap berperang frontal dan kalah persenjataan. Mereka, para pendekar pejuang Betawi itu meneruskan perlawanan secara sporadis dan menyebar di berbagai kampung di Condet. Para tuan tanah dan Serdadu Marsose menjadi target serangan Hit and Run dari pasukan H. Entong Gendut. Belanda pun menjadi tidak tenang, karena pembrontakan ini terjadi dipinggiran pusat kekuasaannya di Batavia. Maka bala bantuan pasukan ditambah lagi dari Bekasi dan Bogor pun dikirimkan untuk menumpas perlawanan ini.

Setelah hampir lima bulan melakukan perlawanan, maka pemberontakan tersebut dapat dipadamkan.

Disuatu senja dalam pertempuran terakhir di kampung Bale Kambang, di tepian Sungai Ciliwung H. Entong Gendut gugur diberondong peluru Kompeni.

Mengenai kematian Entong Gendut terdapat berbagai versi: _Pertama,_ H. Entong Gendut gugur bukan di Bale Kambang namun di Batu Ampar. _Kedua_ Pendekar ini gugur saat menyeberangi sungai Ciliwung menuju Rawajati Kalibata, karena baku tembak saat dikejar-kejar pasukan Marsose.

Setelah gugur, jasad H. Entong Gendut diangkut oleh ambulance Marsose kemudian dibawa dan diceburkan ke laut Teluk Jakarta. Dilakukan demikian agar makamnya tidak di ziarahi para pengikutnya yang dikuatirkan akan menimbulkan perlawanan baru.

Karena itulah makam Pejuang Betawi ini pun tak diketahui rimbanya, ada yang mengatakan di Kemang, Jakarta Selatan, namun ada juga yang mengatakan di Kampung Wadas, Bogor. Saat gugur dalam perjuangannya H. Entong Gendut meninggalkan tiga anak, yaitu Abdul Fikor, Aiyoso, dan Aisyah.

Tradisi perlawanan H. Entong Gendut kemudian di teladani para pejuang Betawi lainnya dalam perang kemerdekaan.

Seorang ilmuwan barat, Robert Cribb dalam bukunya Para Jago dan Kaum Revolusioner Jakarta 1945-1949″ menyingkap heroisme kaum bandit (para Jagoan) yang bersatu melawan penjajah Belanda untuk mempertahankan Proklamasi 1945. Menyebut pula H. Entong Gendut sebagai embrio perlawanan banyak jagoan Betawi terhadap kolonialisme.

Gerombolan bandit Jakarta sepakat bergabung dalam Lasykar Rakyat Jakarta Raya (LRJR), walau ada juga yang mengabdi pada penjajah Belanda dalam pasukan Hare Majesteits Ongeregelde Troepen (HAMOT). Biasanya bukan berasal dari Orang Betawi.

Baca juga :  Konas Menwa Indonesia: Keberhasilan Kepemimpinan DANMENWA Adalah Menambah Satuan Menwa Baru

Gembong-gembong bandit pada saat itu turut berjuang, baik dalam LRJR maupun organisasi perjuangan lainnya. Imam Syafe’ie alias Bang Pi’ie, gembong jagoan Betawi di kawasan Senen, misalnya Aksi kriminalnya (thd Belanda dan Jepang) membuat dia kaya raya dan menjadi tuan tanah. Dimasa perang kemerdekaan, Bang Pi’ie dan barisan KOBRA yg dipimpinnya aktif dalam perang kota di Jakarta melawan Jepang, Sekutu dan NICA. Beliaupun kmudian ditarik gabung k TNI dan diberi pangkat Kapten. Namanya menjadi momok bagi pasukan Belanda, terutama Batalyon X KNIL yg bermarkas di Gongseng, Galur Jakarta Pusat.

Pasca kemerdekaan, Ia sempat menjadi Menteri Keamanan Rakyat pada Kabinet 100 Menteri di zaman Bung Karno. Bang Pi’ie wafat pada 1982 dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata dgn pangkat terakhir, Letkol. Juga Tokoh lain sprti Mat Item di Cengkareng.

Lain halnya dengan Haji Darip, jagoan Betawi asal Klender kelahiran tahun 1900. Dia keturunan dari pemimpin kelompok pendekar yang terkenal, Mat Gempur (salah seorang pengikut H. Entong Gendut).

H. Darip dimitoskan punya jimat kekebalan dan pandai merekrut para.bromocorah untuk menjadi pengikutnya. Haji Darip pernah memimpin pemogokan buruh kereta api pada 1923. Sama dengan H. Entong Gendut, meski berlatar belakang Jagoan, beliau juga aktifis pergerakan kemerdekaan.

Wilayah kekuasaan Darip membentang dari Cakung. Klender hingga Pulogadung; dari Jatinegara sampai Bekasi.

Setiap orang China, Eurasia, bahkan Eropa, jika kebetulan melewati wilayah kekuasaannya, pasti di cegat dan dijarah serta harus berteriak “merdeka!” dan wajib membayar 2 gulden. Kawanan bandit (Sebutan Belanda) itu adalah pejuang yang patriotis juga melakukan aksi “teror” secara sporadis kepada setiap kepentingan penjajah.

Pada 19 Oktober 1945, sebanyak 68 orang serdadu Angkatan Laut Jepang dihadang dan dibantai di Bekasi dalam perjalanan mereka ke Penjara Ciater. Pada 23 November 1945, sekelompok tentara Belanda dan Inggris tewas dihajar kelompok pejuang ini di Cakung dan Bekasi. Untuk mengenang H. Darip, kini ada sebuah nama Jalan Haji Darip di daerah Klender. Dan salah satu putra almarhum, yakni H. Komarudin Darip adalah salah satu tokoh pendiri dari organisasi FORKABI (Forum Komunikasi Anak Betawi). Sebuah ormas yang bertujuan mengangkat harkat dan martabat kaum Betawi di era modern saat ini.(Red)

Print Friendly, PDF & Email
Bagikan :

Komentar

Berita Terbaru