oleh

Indonesia Bergerak, Tokoh Betawi : Jakarta Tanpa Ahok

Jakarta, kicaunews.com — masyarakat urban yang gerah melihat pola kepemimpinan Jakarta yang gaduh serta Memandang buruk nya managemen pemerintahan dari perspektif ekonomi, politik, sosial budaya dan etika kepemimpinan. Maka tergerak dari kami untuk mengelar diskusi dengan tema “Indonesia Bergerak”,di bakoel koffie, tutur Panitia pelaksana Erwin H. Al Jakartaty.

Erwin menuturkan, Diskusi yang mengusung tema jakarta tanpa Ahok lahir dari ide-ide brilian teman-teman indonesia bergerak. Kelompok ini miris melihat kondisi jakarta saat ini, sehingga mereka berkeinginan mengadakan diskusi tersebut dengan melibatkan semua kalangan baik yang pro dan kontra terhadap ahok, biar terlihat netral dan tidak memihak.

Erwin menambahkan,  undangan yang kami hadirkan dari berbagai kalangan seperti Rachmat Hs dari forum betawi, Ridwan saidi Budayawan betawi, Adhie Massardi (GIB), Ubaydillah, Kusfiardy dan Amalia Ayuningtyas (Teman Ahok).

Diskusi yang membahas perkembangan jakarta selama di bawah kepemimpinan ahok sebagai gubernur. Kebijakan nya membuat rakyat merasa resah, akibat kebijakan yang kontroversial dengan budaya masyarakat jakarta.

Seperti dikatakan Adhie Massardi, munculnya sikap anti cina karena kebodohan ahok yang menodong pengembang untuk membangun rusun, seterusnya ahok mencoba untuk memasukkan kembali TNI Porli untuk berpolitik kembali dengan dilibatkan oleh Ahok untuk melawan rakyat kecil, padahal TNI Porli merupakan militer Merah Putih, bukan militer merah.

“Ahok itu menolak demokrasi dan tidak mau menerima kritik dari rakyat. Ini merupakan bukti bahwa sosok Ahok tidak ideal menjadi sosok pemimpin”. Ucap adhie

Ardhi menambahkan, perkataan Ahok yang di sampaikan sebagai kebijakan apabila tidak tertuang dalam APBD itu omong kosong, hanya retorika saja. Seorang kepala daerah harus mampu mengelola anggaran dengan baik”.

Gubernur DKI telah di berikan masukan oleh BPK dalam anggaran APBD tahun 2015. Namum hal itu masih saja tidak di gubris oleh gubernur. Penyerapan anggaran tahun 2016 berkisar 38%, gubernur DKI tidak bisa menjalankan pemerintahan nya dengan maksimal, jangan jangan gubernur sekarang tidak paham sistem paparnya.

Sementara itu budayawan betawi Ridwan saidi mengatakan untuk pilkada yang akan datang, Ahok itu jangan di pilih, cuma itu solusi untuk melawan dia. Lanjutnya penggusuran mesjid di Taman Ismail Marzuki (yang konon katanya mau di bangun ulang sampai detik ini tidak pernah di bangun lagi.

“Pembongkaran mesjid di tim itu ada kepentingan cukong. Sehingga mesjid yang TIM tidak kunjung di bangun kembali. Begitu pula dengan kasus reklamasi yang terjadi sekarang adalah kepentingan dari pengembang”. Tegas Ridwan.

Ridwan menambahkan, Penggusuran warga di pinggir kali dan di pinggir rel yang tidak mempunyai batas. Ini merupakan sikap kesewenang wenangan Pemerintah DKI. 

Masig kata Ridwan, pemerintah DKI Jakarta tidak mempunyai aset yang tertulis termasuk tanah luar batang, rawajati, namum kesemuanya itu di klaim sebagai milik pemda. Kita sayangkan pihak bersenjata di manfaatkan dalam hal ini paparnya di sertai tepuk tangan dari audiens.

Pembangunan apartemen dan hotel yang menyebabkan warga jakarta terusir dari tanah nya sendiri. Penggusuran masjid di Taman Ismail Marzuki (TIM) tidak ada satu media online pun yang meliput, ini bukti keprihatinan kami terhadap warga DKI Jakarta yang di jajah.

“Negara indonesia sekarang sudah mulai di kuasai oleh cina berawal dari kasus sengketa laut cina selatan, kita tunggu keputusan PBB nanti. Perang laut cina selatan akan mengubah wajah asia”, jelas Ridwan. 

Sembilan naga menurut saya (sembilan barongsai) ini sekarang yang menguasi Republik Indonesia. Revolusi apabila ini suatu pilihan untuk melengserkan dia, apa boleh buat. Mungkin pemerintah sekarang sudah memilih untuk di revolusi tuturnya.

Akan tetapi dalam diskusi tersebut sayang di sayangkan akibat tidak hadir perwakilan dari teman ahok atau yang pro ahok. Sampai diskusi mau berakhir panitia belum bisa menghubungi team ahok yang di wakili amelia untuk hadir di forum diskusi.

Di akhir acara,  ketua panitia pelaksana Erwin menyampaikan bahwa kami tidak ingin subyektif memberikan penilaian. Dengan menggelar diskusi ini kami berharap dapat mendengar langsung aspirasi berupa kegelisahan yg diwakili oleh para pembicara. Sayang nya pihak Pro Ahok yg kami undang tidak hadir. Jadi obyektifitas yg kami harapkan tidak tercapai.

“Seharusnya kalau mereka peduli dengan kemajuan Jakarta, turut hadir agar ada perimbangan pendapat. Toh sifat utama dari Diskusi ini kan silahturahmi”, imbuh Erwin. (Red)

Print Friendly, PDF & Email
Bagikan :

Komentar

Berita Terbaru