oleh

Membangun Transportasi Massal dari Sisi Timur Kota Tangerang

Kota Tangerang, Kicaunews.com – Ketersediaan sistem transportasi massal di kawasan perkotaan merupakan suatu kebutuhan, mengingat aktivitas masyarakat dan mobilitas yang cenderung terus bertambah namun pertumbuhan inrastruktur yang belum mampu mengimbangi kebutuhan tersebut. Banyak penyebab mengapa hal ini terjadi, diantaranya adalah pembangunan infrastruktur jalan membutuhkan biaya yang besar, dimana komponen terbesar disebabkan harga lahan yang tinggi.

Rencana Terminal dan Halte Jalur Elevated Busway Koridor XIII Trase Kota Tangerang
Rencana Terminal dan Halte Jalur Elevated Busway Koridor XIII Trase Kota Tangerang

Penyediaan transportasi massal bagi masyarakat merupakan salah satu jawaban atas permasalahan tersebut. Kapasitas infrastruktur jalan akan dapat termanfaatkan secara optimum. Sebagai gambaran, 1 buah bus mampu mengangkut 30 penumpang. Jika diasumsikan spearuh dari penumpang adalah pemilik kendaraan pribadi, berarti 1 buah bus telah mampu mengurangi 15 unit kendaraan pribadi yang melintas di jalan. Penerapan angkutan public sangatlah effektif dalam menaikkan kapasitas jalan, karena mampu mengurangi kepadatan jalan sehingga perjalanan akan menjadi lebih lancar dan cepat.

Kota Tangerang sebagai kawasan perkotaan, juga menghadapi permasalahan yang serupa. Salah satunya adalah yang terjadi di kawasan Timur Kota Tangerang yaitu Ciledug/Karang Tengah. Sebagai salah satu jalur masuk menuju dan dari Jakarta, Ruas Jalan HOS Cokroaminoto turut menanggung sekitar 30% pergerakan masyarakat Kota Tangerang ke  Jakarta, sehingga kepadatan lalu lintas terjadi sepanjang ruas jalan ini.

Typical Desain Pilar dan Box Girder Elevated Busway
Typical Desain Pilar dan Box Girder Elevated Busway

Pembangunan jalur busway menggunakan konstruksi jembatan layang adalah salah satu upaya yang dilakukan oleh Pemprov DKI Jakarta untuk mengatasi kemacetan ruas jalan dari Kota Tangerang menuju DKI Jakarta dan sebaliknya, dimana jalur ini disebut dengan koridor XIII. Jalur ini istimewa karena hanya diperuntukkan bagi kendaraan busway (dedicated lane). Ketepatan waktu tempuh dalam perjalanan menjadi salah satu kelebihan jalur ini karena tidak akan berebut jalur dengan pengguna kendaraan bermotor pribadi (seperti mobil, motor) atau kendaraan umum lainnya (bus, taxi, ojeg, metromini, mikrolet, dll). Mengingat sepanjang jalur busway ini akan berada di ketinggian maka jenis konstruksi disebut sebagai elevated busway.

Typical Desain Halte Tampak Melintang dan Memanjang
Typical Desain Halte Tampak Melintang dan Memanjang

Mencermati program pembangunan elevated busway tersebut, Walikota Tangerang, Arief R. Wismansyah mengusulkan kepada Gubernur DKI Jakarta untuk memperpanjang koridor XIII ini sehingga tidak berhenti di perbatasan DKI Jakarta – Kota Tangerang tetapi diperpanjang hingga ke Terminal Poris Plawad (TPP). Koridor ini akan melalui ruas jalan HOS Cokroaminoto dan diusulkan untuk memanfaatkan kawasan CBD Ciledug sebagai lokasi terminal antara, sehingga upaya untuk mengurangi masalah kemacetan bisa jauh lebih efektif. Bagi masyarakat pengguna koridor XIII juga akan menikmati kemudahan jika berpergian ke kawasan Bandara Soekarno Hatta (Basoetta), karena di lokasi TPP direncanakan terkoneksi langsung dengan kereta api bandara.

Baca juga :  KKG PAI Kecamatan Matraman Menggelar Pentas PAI

Pada tahun 2015 Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menyetujui perpanjangan trase koridor XIII, kemudian pemberian bantuan keuangan sebesar kurang lebih Rp. 1,2 trilyun selama 3 tahun untuk pembangunan konstruksi elevated busway di wilayah Kota Tangerang.

Bantuan Keuangan tersebut digunakan untuk pembuatan studi andal lingkungan, andal lalu lintas, perencanaan terminal/shelter, perencanaan konstruksi jalan layang dan pekerjaan konstruksi. Seluruh studi dan perencanaan telah selesai dilaksanakan. Perencanaan teknis konstruksi jalan layang direncanakan selesai pada akhir 2016 ini karena gagal lelang. Selanjutnya pekerjaan konstruksi bisa mulai dilaksanakan pada tahun 2017 dengan skema multiyears, menunggu proses pilkada Gubernur DKI Jakarta selesai dan proses penganggarannya di Pemprov DKI Jakarta.

Rencana panjang jalur elevated busway koridor batas DKI Jakarta – Underpass Ciledug (Kota Tangerang) sepanjang 5,500 meter. Terdapat satu (1) terminal intermoda yang direncanakan ada di CBD Ciledug, dan lima (5) unit halte, dengan rencana lokasi sebagai berikut; Halte Ramayana Ciledug, Halte Simpang Dr. Sutomo – Cipto, Halte Khusus Puribeta Selatan, Halte SPBU Ciledug (Simpang Jl. Gotong Royong – Prof. DR. Hamka) dan Halte Pasar Kreo. Pembangunan konstruksi elevated busway akan dibagi dalam dua tahap yakni mulai dari Kampus Universitas Budi Luhur hingga CBD Ciledug, dan selanjutnya tahap kedua diteruskan hingga Terminal Poris Plawad dengan total panjang secara keseluruhan mencapai 12 kilometer.

Adapun untuk tipe konstruksi jalur elevated busway dimaksud, menggunakan pondasi jenis bore pile dengan diameter 120 cm, sementara struktur bangunan atas berupa Segmental Box Girder Precast (Concrete) dengan lebar 9 meter. Gambar typical cross section konstruksi elevated busway dan gambar detail penampang konstruksi bangunan halte seperti terlihat pada gambar- gambar berikut;

Baca juga :  Peneliti : Bahaya… Cairnya Es Antartika Bisa Berpengaruh Pada Gravitasi

Konstruksi terminal dan halte di rencanakan memiliki nuansa modern, sehingga diharapkan mampu menjadi salah satu daya tarik bagi masyarakat untuk mengunakan transportasi massal. Integrasi terminal dengan pusat bisnis diharapkan juga dapat memperluas cakupan pelayanan serta mempermudah masyarakat dalam mengakses transportasi massal yang disediakan.

Untuk merealisasikan pembangunannya, banyak pihak yang terlibat diantaranya adalah Pemprov DKI Jakarta, Pemprov Banten, PT. Transportasi Jakarta, Operator dan Pemilik Angkutan Umum Konvensional, Pengembang Perumahan, Pengelola Kawasan dan lain-lain. Keberadaan transportasi massal diharapkan bisa menjadi salah satu faktor pendorong pertumbuhan ekonomi, bukan hanya bagi pengguna koridor XIII tetapi juga masyarakat di sepanjang koridor. Dengan tersedianya angkutan massal di Kota Tangerang telah sejalan dan relevan dengan visi Kota Tangerang sebagai kota LIVE (Liveable, Investable, Visitable dan E-City) yaitu menjadikan kota yang layak huni, layak investasi, layak kunjungi dan kota pintar. (adv)

     adv5adv6adv7

             Pengukuran Topografi dan Pengujian Tanah di Jalur Elevated Busway Kota Tangerang

Print Friendly, PDF & Email
Bagikan :

Komentar

Berita Terbaru