oleh

Resensi Buku Nasionalisme Retorika Gombal, Meneropong Indonesia Dari Sudut Orang Muda. Karya Jemmy Setiawan

Jakarta, Kicaunews.com –  KiJimmy Setiawan, seorang anak muda yang meski kini hidup dalam zona nyaman sebagai pebisnis dan sekaligus pengajar di sebuah perguruan tinggi swasta di Yogyakarta. Namun rasa kepeduliannya terhadap kondisi bangsa tidak pernah pudar. Dalam kesibukan yang begitu menyita waktunya, seorang Jemmy masih sempat meluangkan waktunya untuk menulis sebuah buku yang berjudul Nasionalisme Retorika Gombal. Buku yang di tulis dengan bahasa ringan dan mengalir meski berisi tentang berbagai keprihatinan dan kritik sosial terhadap kondisi bangsa, tentang rasa nasionalisme sebagai sebuah filsafat dan pemikiran. Tema-tema yang termasuk “berat”, namun seorang Jemmy mampu menyajikannya dalam bahasa mudah dan enak dibaca.

Buku hasil dari pengamatan, perenungang dan pemikiran dalam “lelaku” seorang Jemmy yang notebeme memiliki jam terbang dan pergaulan luas dalam berbagai aktivitasnya. Maka apa yang dilihat, didengar dan dipelajarinya terus menjadi catatan-catatan panjang yang pada akhirnya jimmy memutuskan untuk menerbitkannya sebagai sebuah buku.  Keputusan tersebut kemudian dengan diniatkan untuk berbagi banyak hal kepada khalayak luas dari berbagai latar belakang, baik mahasiswa, pemuda, politisi dan untuk siapa saja anak bangsa yang masih memiliki kepedulian terhadap bangsanya.

Buku tulisan Jemmy Setiawan, aktivis muda yang pernah berkiprah di ISMAHI berisi tiga tema besar yang kesemuanya menggambarkan apa dan bagaimana gagasan tentang nasionalisme Indonesia diperjuangkan sebagai sebuah semangat merebut kemerdekaan, namun kemudian pelan tapi pasti seakan ditelantarkan oleh para elit bangsa. Nasionalisme, sebagai sebuah irama yang penuh optimisime untuk mencapai cita-cita Indonesia yang berkesejahteraan dan berkeadilan, namun dalam prakteknya nyaris menyerupai sebuah retorika gombal, semacam omong kosong yang pelan-pelan menguap tanpa makna. Dengan gamblang hal itu digambarlan oleh Jemmy, bahwa rasa nasionalisme kita sebagai sebuah bangsa sedang mengalami fase terendah sejak Indonesia merdeka.

Baca juga :  Hanya Karena Kurang Anggaran Satpol PP Seakan Tutup Mata Perihal Para PKL Kawasan Kahatex Yang Melanggar Estetika

Dibagian kedua buku ini Jemmy sebagai penulis menggambarkan bagaimana rasa nasionalisme kita sebagai bangsa semakin mengalami masa-masa suram, meredupnya nasionalisme. Gejala yang dapat dirasakan menurut Jemmy ketika kian marak para pejabat dan elit bangsa kita tidak lagi mampu menjadi teladan dan contoh nyata dalam kehidupan nyata kita sebagai sebuah keluarga besar, sebagai satu bangsa yakni bangsa Indonesia. Meski Jemmy tidak menafikan bahwa faktor meredupnya nasionalisme kita juga dipengaruhi oleh faktor-faktor eksternal, namun menurutnya faktor yang cukup signifikan yang mempercepat redup dan pudarnya nasionalisme kita adalah faktor perilaku pejabat dan elit bangsa.

Bangsa seorang Jemmy berani memastikan bahwa faktor perilaku para elit bangsa. Mereka para pejabat negara yang kurang educated secara moral dan sikap sembrono yang cenderung lebihy mengutamakan kepentingan diri dan kelompoknya dibanding urusan bangsanya, merupakan faktor utama yang mempengaruhi bagaimana pelan tapi pasti rasa nasionalisme kita sebagai bangsa kian lama kian redup, memudar warnanya serta kehilangan rohnya.

Kondisi tersebut kemudian memicu kekecewaan berbagai kalangan, utamanya kaum muda menjadi apatis dan masa bodoh terhadap kinerja para pemangku kewenangan yang memiliki otoritas dan amanah rakyat, bagaimana perilaku korupsi yang bagaikan virus ganas menyebar dikalangan pejabat negara, abuse of power, dan merajalelanya peredaran narkoba yang meracuni generasi muda adalah faktor yang kian berkembang bagi tumbuh suburnya penyakit individualisme alias selamatkan diri masing-masing dikalangan kita utamanya kaum muda Indonesia. Buah dari itu adalah sikap pragmatisme dan anti sosial. Hilang rasa senasib dan sepenanggungan sebagai sebuah bangsa.

Buku ini bagi seorang Jemmy adalah sebagai salah satu bentuk kepedulian dan sense of crisis terhadap kondisi bangsa. Sekecil apapun, tetaplah lebih baik menyalakan suluh dan pelita, dibanding sekedar meratap dan menyesali tanpa ikhtiar. Dalam bagian ketiga, buku ini memberi semacam oasis bagi jiwa-jiwa yang lelah, untuk berhenti sejenak dan kemudian melangkah dengan tetap optomis sebagai sebuah bangsa. Tidak ada penyakit yang tidak ada obatnya, tidak ada masalah yang tidak ada solusinya.

Baca juga :  Pelantikan Pengurus RT dan RW 02 Cipinang Muara

Meski bukan karya yang sempurna, namun pada akhirnya kita harus mengakui bahwa buku Nasionalisme Retorika Gombal tulisan Jemmy ini layak dibaca, terutama bagi kalangan aktivis pergerakan, baik mahasiswa dan kaum muda Indonesia. Sebuah karya anak muda yang terus bergerak dan berproses, buku ini layak menjadi rujukan bagi kita semua kaum penggerak yang mencita-citakan perubahan, setidaknya bisa menjadi cermin dan mata air inspirasi bagi kita yang masih peduli terhadap kondisi bangsa.

Oleh : Ali Sodikin (Aktivis HMI)

A Widhy

Print Friendly, PDF & Email
Bagikan :

Komentar

Berita Terbaru