oleh

Secara Politik, MKJ : Wajar Orang Betawi Tolak Ahok

Jakarta, kicaunews.com — Ancaman Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok terhadap Bamus Betawi untuk tidak lagi memberikan dana hibah ke wadah berhimpun ormas-ormas Betawi ini menuai banyak reaksi di publik ibukota.

Pernyataan ini disampaikan Ahok mengingat bahwa dalam perspektifnya Bamus Betawi dianggap bermain politik, terutama menjelang pilkada DKI Jakarta. Tak hanya itu, Ahok pun melarang Orang Betawi menjadi Gubernur Jakarta, terutama kepada dua putra Betawi yang potensial seperti Saefullah dan Hj. Sylviana Murni, dua birokrat Betawi di Pemprov DKI.

Jelas pernyataan Ahok menimbulkan gejolak dan menambah daftar panjang “musuh-musuh” calon petahana pilgub DKI Jakarta ini.

Mencermati hal ini, Majelis Kajian Jakarta (MKJ) sebuah lembaga swadaya masyarakat yang intens mengkaji persoalan sosial ibukota dan kebangsaan menilai bahwa secara politik orang Betawi wajar jika menentang sikap Ahok.

“Bamus Betawi adalah repsentasi nyata dari eksistensi indegenious people atau warga asli kota Jakarta yang mewadahi banyak ormas kebetawian, jadi hal yang lumrah jika diberi bantuan hibah dari pemprov DKI berdasarkan APBD yang notabene adalah uang rakyat,” kata Erwin H. Al Jakartaty, Kordinator MKJ Yang juga tokoh pemuda betawi saat ditemui kicaunews.com di Kantor sekretariat lembaga.

Hibah pemprov DKI Jakarta kepada Bamus Betawi adalah amanat konstitusi dan secara spesifik merupakan implementasi dari Perda No. 4/tahun 2015 tentang Pelestarian Kebudayaan Betawi.

Erwin menjelaskan, secara politik, adalah hal yang wajar pula jika mayoritas dari 5 juta orang Betawi di ibukota ini menolak Ahok, mengingat bahwa sejak Indonesia merdeka Orang Betawi berharap memiliki kesempatan untuk memimpin dikampungnya sendiri, bukan karena sebab SARA sebagaimana yang dituduhkan oleh Ahok.

Perkara tudingan Ahok bahwa Bamus Betawi berpolitik untuk menggoalkan cagub Betawi, menurut tokoh muda Betawi ini seharusnya disikapi dengan bijak, bukan reaksioner dengan mengancam untuk menghentikan hibah kepada Bamus Betawi.

“Ahok itu sebenarnya ketakutan dan reaksioner, hingga bersikap seperti kekanak2 an dengan mengancam organisasi sekelas Bamus Betawi. Itu sama aja niup terompet perang, dan jangan sekali-kali menantang orang Betawi, bisa fatal akibatnya,” tukasnya.

Masih kata erwin, Masyarakat Betawi sangat toleran terhadap perbedaan, banyak mengalah dan tidak usil terhadap hal apapun. Namun jika sudah ditantang, maka peribahasa Betawi yang terkenal “Ente Jual, Ane Beli” pasti akan terealisasi. Apalagi dalam memperjuangankan nilai-nilai prinsip yang berbasis kebudayaan.

“Sikap Ahok itu inskonstitusional, karena dengan menarik hibah kepada Bamus Betawi dan melarang orang Betawi menjadi gubernur dikampungnya sendiri, berarti dia telah melanggar Perda dan UUD 1945, yang tak sepantasnya dilakukan seorang pemimpin,” pungkasnya. (Widhy)

Facebook Comments
Print Friendly, PDF & Email

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

Berita Terbaru