oleh

Ketika Ketua RW Bicara Tentang Darurat Kebangsaan

Jakarta, kicaunews.com — Ada yang sedikit berbeda dalam diskusi rumahan yang di gelar Majelis Kajian Jakarta (MKJ) pada 30/8/16 kemarin, dengan menghadirkan narasumber seorang Ketua Rukun Warga (RW).

Diskusi rutin yang dilaksanakan MKJ kali ini membahas tema Darurat Nasionalisme; Kedaulatan yang tergadaikan, itu sendiri merupakan wahana tukar informasi, ide dan gagasan para aktifis muda Jakarta. Pembahasan diskusi menjadi lebih menarik karena di hadiri pula oleh aktifis Makassar, Yarifai Mapeaty disamping beberapa aktifis pemuda, mahasiswa dan LSM.

Nurhasanudin, Ketua RW 05 kelurahan Semper Barat Jakarta Utara ini menganalogikan persoalan Darurat Nasionalisme saat ini dengan pengalamannya sehari-hari dalam memimpin warga dilingkungan RW nya, yang sangat plural dan heterogen.

“Lingkungan RW saya sangat plural dan heterogen, dari sisi demografi hampir semua etnis anak bangsa nusantara ada dan berbaur dalam kesehariannya dengan berbagai permasalahan yang kompleks, dan itu saja cukup membuat pusing. Apalagi memimpin ibukota atau negara ya?,” tutur Nurhasanudin yang biasa dipanggil Acang.

Lebih lanjut Ketua RW yang masih menjabat sebagai Ketua KNPI Jakarta Utara ini menjelaskan bahwa persoalan kebangsaan saat ini hampir tidak difikirkan oleh warganya yang kebanyakan bersifat individualis. Peran negara hampir tak terasa, kecuali jika menyangkut kebijakan pembangunan yang terkait kepentingan publik baru dirasakan. Terutama yang memyangkut dengan pembangunan masyarakat ibukota. Mengingat dilingkungan RW 05 yang dipimpinnya juga terdapat banyak jenis usaha mandiri yang dikelola masyarakat. Hingga menurutnya pembangunan fisik lebih banyak dilakukan masyarakat ketimbang oleh negara.

“Dari saya kecil hingga saat ini, perubahan fisik dilingkungan saya saat ini lebih banyak merupakan hasil swadaya masyarakat, dari mulai bangun mushola hingga perbaikan jalan, tanpa terasakan peran pemerintah,” lanjut Acang.

Baca juga :  Pilgub DKI 2017, MKJ : Jakarta Tak Perlu Import Cagub Dari Daerah

demikian dengan persoalan sosial lainnya seperti orang miskin yang sakit keras, bayi yang kekurangan gizi, masalah warga pendatang dan lain-lain. Hingga masyarakat merasa bahwa semua yang menyangkut hajat hidupnya adalah permasalahan mereka sendiri. Yang seharusnya ada peran negara didalamnya.Dalam kondisi masyarakat yang seperti inilah rentan digoyang oleh isu-isu sensitif dan provokasi terhadap masalah-masalah politik.

Menurutnya saat ini pemerintah seakan kurang peduli untuk sekedar mensosialisasikan nilai-nilai kebangsaan, elite pemerintahan saat ini tidak pro-rakyat tapi mengakomodasikan kepentingan kaum pemodal.

Generasi muda bangsa pun relatif kurang peduli terhadap permasalahan sosial dilingkungannya. Untungnya dengan berbekal pengalamannya sebagai aktifis pemuda, Nurhasanudin mampu merangkul kaum muda dan remaja dari 15 RT dilingkungannya agar lebih pro aktif.

Saat ini dan kedepan, Nurhasanudin berharap bahwa elite pemimpin nasional dan ibukota lebih memahami kondisi aktual di masyarakat dengan mencitrakan pola kepemimpinan yang lebih membumi menyatu dengan permasalahan rakyat bukan dengan pencitraan yang acapkali turun kebawah namun setelah itu ditinggalkan.

“Kondisi bangsa ini memang mengalami darurat nasionalisme, teramat kompleks karena perjalanan reformasi juga tdk tuntas, namun bukan berarti kita gadaikan kedaulatan negeri ini dengan mengasong kepada kepentingan asing dan aseng, karena akan membangkitkan kemarahan rakyat yang selama ini tertekan,” pungkasnya. (Jef)

Print Friendly, PDF & Email
Bagikan :

Komentar

Berita Terbaru