oleh

PILKADA JAKARTA ITU ANOMALI

Jakarta, Kicaunews.com – 15 Februari 2017,DKI Jakarta akan lakukan Pemilihan Gubernur, dan mari kita flashback, Tahun 2011 Ahok yg saat itu menjabat anggota komisi II DPR RI dari Partai Golkar mengadu nasib dgn mencalonkan diri menjadi calon Gubernur DKI dari jalur perseorangan bersama 2 cagub perseorangan lainnya yaitu Faisal Basri dan Hendarman Soepandji. Dari 3 calon perseorangan itu, hanya Ahok yg tidak lolos verifikasi karena KTP dukungan tidak mencapai 100.000.

Gagal dari jalur perseorangan akhirnya Ahok pindah ke Partai Gerindra lalu menjadi Calon Wakil Gubernur Jokowi yg di usung PDI Perjuangan.

Antara Januari ke Febuari 2012, Survey awal Jokowi – Ahok hanya 6,5% berbanding jauh dengan calon Petahana Fauzi Bowo – Nara yg saat itu Survey nya diatas 70%.

Tanggal 19 Maret 2012 Jokowi dan Ahok yang survey nya masih di bawah 10% mendaftarkan diri ke KPU dengan di usung oleh PDI Perjuangan dan .

Tanggal 8 April 2012 Lingkaran Survey Indonesia merilis hasil Survey yang mengunggulkan Fauzi Bowo – Nara 49,1% dan Jokowi – Ahok 14,4%

Menyadari selisih survey yg sangat besar maka PDI Perjuangan dan Gerindra beserta relawan berjuang mati matian untuk memutar balik hasil survey itu melawan 2 calon perseorangan, Fauzi Bowo yg didukung 7 partai, Alex Nurdin yg di dukung 11 partai serta Hidayat Nurwahid yg didukung PKS.

11 Juli 2012 pilkada DKI dilaksanakan dan hasil penghitungan suara Jokowi – Ahok mendapat 1.187.157 suara atau 42,60 % dan Fauzi Bowo mendapat 1.476.648 atau 34.05% , sementara Calon perseorangan Faisal Basri 215.935 suara atau 4,98% dan Hendarji memperoleh 85.990 suara atau 1,98% sementara Alex Nurdin yg didukung 11 Partai hanya dapatkan 202.643 suara atau 4,67% dan Hidayat Nurwahid 508.113 suara atau 11,72%

Baca juga :  Polsek Jatibarang Menggandeng Koramil Jatibarang beserta Satpol PP Kecamatan Kembali Gelar Patroli Gabungan Dalam rangka OPS AMANNUSA II Tahun 2020

Perolehan itu mengejutkan hampir semua lembaga Survey yg umumnya menghitung Jokowi – Ahok kalah dari Fauzi Bowo – Nara. Sekitar 90% pengamat dan lembaga survey menyebut hasil Pilkada DKI Juli 2012 adalah Anomali.

KPU kemudian putuskan Pilkada dilakukan 2 putaran dan Jokowi – Ahok head to head dengan Fauzi Bowo – Nara.

Diputaran ke dua ini tidak satupun lembaga survey berani mempublikasikan hasil survey dengan alasan Pilkada Jakarta sangat dinamis sehingga Survey pun tidak serta merta bisa menjadi rujukan.

Pilkada DKI sulit di prediksi karena beberapa hal. Pertama, akses informasi di Jakarta sangat cepat dan tanpa batas. Hasil survey, 60% atau sekitar 6,5 juta dari 11 juta penduduk DKI adalah pengguna internet Aktif (sosial media, media on line dll) dengan durasi rata rata 2 jam per orang perhari.

Kedua, pengelompokan politik dan ekonomi sangat beragam. Ke tiga, APBD DKI yg mencapai Rp 63 Trilyun pertahun dan perputaran uang sebesar Rp 2.000 Trilyun pertahun atau 70% dari total perputaran uang di Indonesia membuat Gubernur Jakarta menjadi sangat penting untuk diperebutkan oleh semua kekuatan politik dan ekonomi. Ke empat, penduduk Jakarta sangat majemuk.

Meyakini kemenangan Ahok hanya dari Survey 7 bulan sebelum Pilkada merupakan keyakinan yang sangat prematur. Begitu juga klaim 1 juta KTP tidak bisa menjadi tolak ukur bahwa Ahok pasti menang. Terlebih lagi karena hari ini belum ada lawan Ahok yang sudah resmi mendaftar.

Baiknya jangan terlalu fokus dan terlena pada hasil survey dan klaim 1 juta KTP, karena politik tdk sesederhana itu. Ada banyak faktor lain yang juga akan ikut menjadi penentu kemenangan Pilkada DKI yg juga harus diperhatikan. Dua faktor dan fakta yang akan ikut menentukan adalah fakta komposisi Etnis dan Agama, yaitu sebagai berikut :

Baca juga :  Tak Ingin Pecah Karena Setnov, Golkar Kedepankan Jalan Musyawarah

Komposisi etnis. Jawa (tengah, jogja dan timur)
35,16%. Betawi 27,65%, Sunda 15,27%, Tiong Hoa 5,53%, Batak 3,61%, Minang 3,18% Melayu 1,62% dan sisanya etnis lain dari Papua, Dayak, Bugis, Maluku, Bali, hingga Aceh.

Komposisi Agama, 85,36% beragama Islam. 7,54% beragama Kristen. 3,15% beragama Katolik, Hindu 0,21% Budha 3,13% dan Kong Hu Cu 0,06%.

Bagaimana tim masing masing kandidat mampu mengelola, bersiasat dan mengatur taktik serta strategi kampanye pada dua faktor dan dua fakta di atas akan sangat menentukan siapa yang akan jadi pemenang.

Walau Pilkada masih 7 bulan lagi, tapi bisa di prediksi bahwa Kelompok Sektarian akan gunakan isu Agama, kelompok Primordial akan gunakan isu etnis. Kelompok Nasionalis dan Pro Demokrasi akan melawan kedua isu itu dengan argumentasi prestasi, kinerja, track record dan lain lain yang senafas dengan Nasionalisme dan Demokrasi.

Oleh : Budiman Sudjatmiko

A Widhy

Editor : Rahmat Saleh

Print Friendly, PDF & Email
Bagikan :

Komentar

Berita Terbaru