oleh

Pencitraan Anies Baswedan dan Buruknya Birokrasi Kemendiknas

Jakarta, Kicaunews.com – Minggu yang lalu beredar secara luas di berbagai media sosial, tulisan Anis Baswedan, menteri Kemendikbud yang menceritakan soal seorang ibu Mei seorang guru TK bèrusia 59 tahun.dari Kecamatan Mertoyudan Kabupaten Magelang.yang mengurus sendiri administrasi ke pegawaiannya karena takut tahun depan tidak mendapar pensiun. Ibu Mei yang ditemani putrinya akhirnya gagal menemui pejabat yang bertanggung jawab untuk mengurusinya dan pulang ke Magelang.tanpa hasil. Pada hari Jumat saat hal itu terjadi ada sekitar 200an orang tenaga guru dari daerah2 yang mengurus soal administrasi kepegawaiannya di kantor Kemendiknas.

Anis Baswedan yang ayahnya seorang guru di Yogyakarta kemudian menceritakan pengalaman pahit keluarganya pada waktu ayahnya mengurus ke pangkatannya berkali-kali dan sering bolak-balik ke Jakarta tanpa hasil.

Kebiasaan AB menulis untuk mengangkat citra dirinya memang sudah banyak diketahui masyarakat, walaupun sebagian masyarakat juga terbawa dengan tulisan tersebut. Dalam tulisannya itu se-olah dia seorang yang penuh simpati kepada kesulitan2 para guru dalam urusan ke pangkatannya.

Namun apabila diperhatikan dengan seksama, maka tulisan tersebut bahkan telah mengungkap kelemahan AB sendiri dalam menjabat sebagai menteri diknas dan kebudayaan.Mengapa tulisan tersebut justru ditulis setelah AB menjabat sebagai menteri selama lebih dari 1,5 tahun ? Dimana selama itu , sebagai menteri , kekuasaan tertinggi dilingkungan Kementerian Pendidikan Nasional berada ditangannya ? Dimana selama itu pula AB juga bisa mengarahkan,mengkondisikan, memonitor,mengendalikan dan bahkan bisa membongkar birokrasi, mengganti pejabat2nya yang tidak kooperatif dan segaris dengan kebijakannya, atau yang nakal, yang korup dsb. Apalagi AB mempunyai pengalaman pahit dikeluarganya ketika ayahnya mengurus administrasi kepangkatannya ke Jakarta ,bolak-balik ,bertahun-tahun yang berkesan sangat mendalam didalam dirinya.

Mengapa bukan pada saat minggu2 pertama AB menjabat sebagai menteri langsung menertibkan birokrasi Kemendiknas untuk hal ini….?. Bila AB serius membenahi birokrasi ini maka hanya dalam tempo 9 bulan atau se-lambat2nya 1 tahun persoalan ini akan bisa dibereskan. Itu waktu yang sangat cukup bahkan lebih dari cukup untuk penertiban.

Baca juga :  Anies Baswedan Kunjungi Djoeang AniesSandi Yang Baru Lahir

Tapi yang terjadi justru sebaliknya. Persoalan kacaunya birokrasi urusan kepangkatan di Kemendiknas dibiarkan saja oleh AB selama lebih dari 1,5 tahun kemudian setelah kebetulan menemukan ibu Mei guru TK dari Magelang terus dijadikan bahan tulisan untuk mengangkat citra dirinya, se-olah2 bersimpati kepada nasib para guru. Padahal didalam tulisannya itupun tidak ada janji ysng tegas untuk perbaikan birokrasi nya itu dan tenggat waktunya . Yang ada hanya himbauàn2 dan retorika2.

Kekacauan birokrasi soal kepangkatan guru ini tentu menimbulkan kerugian yang besar bagi para guru, apalagi bila dihitung ada 200 orang guru tiap hari bolak balik dari daerah2 yang datang ke Kemendiknas selama lebih dari 1,5 tahun setelah AB menjabat menteri,berapa biayanya ? Bukan hanya itu saja, kekacauan birokrasi ini juga merupakan sumber korupsi di Kemendiknas yang berpuluh-puluh tahun termasuk Kementerian yang paling tinggi korupsinya.

Anis Baswedan memang pandai menulis, berkata-kata, berwawancara, tampil di TV dan sebagainya. Namun bila dilihat prestasinya selama menjabat sebagai menteri diknas ternyata tidak mampu melaksanakan kata2nya menjadi kenyataan, tidak mampu membersihkan kementeriannya sebagai institusi yang bersih dari korupsi dan menciptakan birokrasi yang efektif dan efisien yang antara lain harus mendukung dan melayani kepentingan para guru agar bisa fokus mengabdi kepada pendidikan secara penuh . Kementerian Pendidikan telah mendapat anggaran yang tertinggi dibandingkan kementerian yang lain. Karena itu harus dipimpin oleh menteri pendidikan nasional yang jauh lebih mampu bekerja dari pada hanya bermain kata kata seperti Anis Baswedan.
Semoga pendidikan di Indonesia bisa lebih baik lagi,Aamiin. (A Widhy)

Penulis : Bambang Parikesit

Editor   : Rahmat Saleh

Print Friendly, PDF & Email
Bagikan :

Komentar

Berita Terbaru