oleh

Ternyata Kebahagiaan Mendorong Pada Kesuksesan

Jakarta, Kicaunews.com – Apakah Setelah Sukses, Anda Pasti Bahagia? Setiap orang berlomba untuk mengejar kesuksesan dengan harapan dapat mencapai hidup yang bahagia. Tapi apakah ketika mereka mencapai apa yang diinginkannya itu maka otomatis akan meraih kebahagiaan? Misalnya Anda sudah memiliki bisnis yang besar, uang banyak, rumah dan kendaraan mewah, apakah Anda pasti bahagia? Ya, tentu saja. Seharusnya memang begitu bukan?

Shawn Achor (2010) menulis dalam bukunya The Happiness Advantage bahwa banyak orang mengikuti formula: “Jika saya bekerja keras maka saya akan sukses; jika saya sukses maka saya akan bahagia”. Keyakinan ini menjelaskan apa yang paling memotivasi kita dalam hidup ini. Sukses dulu, bahagia kemudian.

Masalahnya adalah formula ini salah, tegas Achor. Jika sukses menjadi sebab bahagia maka orang yang berhasil mencapai tujuan yang diinginkan seharusnya bahagia. Dari setiap kemenangan, tujuan sukses semakin ke depan dan terus ke depan (menjauh), sehingga kebahagiaan pun semakin terdorong ke depan keluar garis horizon. Misalnya Anda ingin punya rumah, berikutnya Anda ingin punya kendaraan. Lalu Anda ingin jumlah penghasilan terus bertambah lagi dan lagi. Itu pun belum selesai karena Anda akan mengingin yang lagi dan lagi, begitu seterusnya tanpa akhir. Selalu saja ada yang kurang dan belum tercapai. Merasa tidak puas dan kecewa  bila belum terpenuhi. Lalu kapan bahagia?

Rupanya kesuksesan tidak menjamin kebahagiaan. Bahkan kebahagiaan lebih fundamental daripada kesuksesan. Kebahagiaan adalah pusat, sementara kesuksesan berputar mengelilinginya. Seperti bumi yang mengelilingi matahari, kesuksesan bergerak mengikuti kebahagiaan sebagai pusatnya. Demikian kesimpulan Achor berdasarkan penelitiannya di Harvard.

Sementara itu Veronica Ray (1991) dalam bukunya, Choosing Happiness menulis:

Baca juga :  Undangan Terbuka Hipma, Sambut Gembira Kedatangan Bulan Suci Ramadhan

“Terkadang kita mempercayai bahwa kita akan bahagia bila berhasil menurunkan berat badan, mendapat pekerjaan, mendapat promosi jabatan, menemukan hubungan cinta, menikah, memiliki anak dan mencapai tujuan-tujuan lainnya. Namun ketika tujuan-tujuan itu berhasil dicapai selalu saja ada yang lainnya lagi. Sepertinya kebahagiaan selalu berada di luar jangkauan kita”.

Kematian dalam Kesuksesan

Ray White (2014) bukunya Creating Happiness and Success memulai tulisan dengan cerita yang cukup dramatis. Pada 15 Agustus 2013 Moritz Erhardt seorang yang bekerja untuk Bank of America di London meninggal akibat komplikasi karena bekerja selama tiga hari beeturut-turut tanpa tidur. Saat itu ia bermaksud akan kembali pada pukul 6 pagi sekedar untuk mandi dan berganti pakaian dengan cepat, dan berharap bisa segera kembali ke ruang kerjanya. Namun ia tak pernah kembali lagi. Ia ditemukan telah meninggal di kamar mandi.

Kematian Moritz yang begitu dramatis dan cepat, tulis White, merupakan contoh bagaimana budaya kita telah mwndorong banyak orang mengejar sukses secara membuta padahal berdampak negatif  terhadap ke bahagiaan, kesehatan dan hal lainnya dalam hidup mereka.

Kebanyakan orang, tegas White, menghubungkan kebahagiaan dan kesuksesan dalam benak mereka namun mengalami kesulitan menghubungkan keduanya dalam tindakan mereka. Seperti Moritz mereka mengejar sukses secara single-minded, dengan harapan mereka akan meraih kebahagiaan ketika berhasil meraih kesuksesan; dan bahwa makin besar kesuksesan yang mereka raih, makin bahagia didapat. Sayangnya, rumusnya terbalik. Success doesn’t lead to happiness. Happiness leads to success,  demikian menurut White.

Bahagia Membuat Semua Jadi Luar Biasa

Jika kita simpulkan garis besar buku Shaw Achor, The Happiness Advantage (yang merupakan hasil penelitiannya di Harvard), maka manfaat dari kebahagiaan adalah sebagai berikut:

  • Bahagia mendorong kesuksesan
  • Bahagia berpengaruh bagi kesehatan dan umur panjang
  • Bahagia membuat fungsi otak bekerja dengan baik
  • Bahagia mendorong produktivitas dan kreativitas
  • Bahagia meningkatkan hubungan yang harmonis dalam keluarga
Baca juga :  Anak Usia 5 Tahun Dibunuh Dibuang Ke Sungai Oleh Ibu Angkat

Jadi, ciptakanlah kebahagiaan di hati Anda, bukan dengan uang, tapi dengan selalu berpikir positif, menjaga dan merawat emosi yang sehat serta menjalin relasi dan hubungan sosial yang baik.

Penulis :  Sahrul Mauludi

Editor   :  Rahmat Saleh

Print Friendly, PDF & Email
Bagikan :

Komentar

Berita Terbaru