oleh

Anggaran Pendidikan dan Kesehatan Dipangkas, Ahmad Muzani : Kami Akan kritis dalam pembahasan APBNP

Jakarta – Pemerintah akan mengajukan rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBNP) ke DPR Jumat (20/5) besok. Fraksi Partai Gerindra DPR RI meminta pemerintah memperhatikan sunguh-sungguh atas pengajuan APBN Perubahan tersebut.

 “Defisit dan kemerosotan ekonomi harus diperhatikan. Gerindra akan kritis dalam pembahasan APBNP karena harus dialokasikan secara maksimal demi kepentingan rakyat,” kata Ketua Fraksi Gerindra DPR RI Ahmad Muzani di kompleks parlemen Senayan Jakarta, Kamis (19/5).

Sekjen Partai Gerindra itu mengatakan, subsidi bagi sektor pendidikan dan kesehatan tidak boleh dikurangi. Artinya anggaran untuk kepentingan untuk orang tidak mampu seperti BPJS tidak boleh berkurang.

 “Pemerintah memang kurang penerimaan dari sektor keuangan, tapi bukan berarti boleh mengurangi jatah kaum miskin. Banyaknya yang daftar BPJS harus dibarengi peningkatan pelayanan, banyak keluhan pelayanan BPJS belakangan ini,” katanya.

Pembangunan infrastruktur yang begitu marak, lanjut dia, di satu sisi Gerindra bangga dengan pemerintah. Namun di sisi lain kemampuan negara belum sesuai dengan maraknya pembangunan infrastruktur. “Kami khawatir angka kemiskinan meningkat, Kami sudah ingatkan defisit yang terlalu besar dalam pandangan kami di pengesahan APBN sebelumnya,” katanya.

Pemerintah dinilai terlalu mengasumsikan terlalu tinggi dan tidak realistis dalam pengajuan APBN 2016. Diperkirakan defisit APBN 2016 mencapai Rp 240 triliun.“Apa yang kami ingatkan dulu (terkait defisit pembahasan APBN 2016) sekarang terjadi. Pengajuan Rp 48 triliun untuk penguatan BUMN terlalu besar,” katanya.

Muzani mengatakan, penguatan BUMN memang penting tapi di sisi lain keuangan negara memeberatkan. Dengan dialokasikannya anggaran yang begitu besar ke BUMN maka maka sektor-sektor lainnya akan bermasalah.

Sumber : http://www.beritasatu.com/ekonomi/365806-apbnp-2016-gerindra-tidak-ingin-2-sektor-ini-dipangkas.html

Editor : Rahmat Saleh

Print Friendly, PDF & Email
Bagikan :

Komentar

Berita Terbaru