oleh

Syaiful Bahri Ruray : Penangkapan Samadikun Konsesi Tiongkok Kepada Indonesia

Jakarta, Kicaunews.com – Saya kira penangkapan Samadikun Hartono bukan sebuah hukuman sih beda dengan tertangkapnya Nazaruddin (Mantan Bendum Demokrat). Samadikun memiliki lima paspor.

Menangkapnya mudah tapi kenapa kasus ini bisa tiga belas tahun terkatung-katung kata anggota Komisi III DPR RI Fraksi Partai Golkar Syaiful Bahri Ruray dalam diskusi yang diadakan oleh Populi Center bekerja sama adengan Smart FM Network dengan tema “BLBI Yang Nyaris Terlupa” di Gado-Gado Boplo Jl. Gereja Theresia Menteng Jakarta, sabtu (23/4).

Syaiful menambahkan Penangkapan Samadikun ini konsesi Tiongkok kepada Indonesia. Tiongkok mendapat keuntungan proyek pembangunan Listrik, Pelabuhan, Kereta Api Cepat. Tiongkok meminta Indonesia mengamankan jalur sutra laut perdagangan Tiongkok. Sebaliknya Tiongkok mengorbankan seorang Samadikun kepada Indonesia. Ada juga buronan non BLBI Edy Tanzil konon masih hidup beber Syaiful.

Kita menghadapi perang asimetris. Perang generasi ke-4 korupsi, narkoba dan terorisme. Extra ordinary crime ( kejahatan luar biasa). Kekuatan negara tidak ditentukan wilayah. Singapura negara kecil tetapi capital besar. Suatu negara bisa dilemahkan karena korupsi, terorisme dan narkoba. Dalam tiga bulan ini dua kombes dan satu letnan kolonel ketimpa kasus narkoba. Extra ordinary crime melemahkan suatu bangsa tanpa peperangan pungkasnya. (Sunarto)

Editor : Rahmat Saleh

Print Friendly, PDF & Email
Bagikan :

Komentar

Berita Terbaru