oleh

Ta’lim Rutin Majelis Sholawat Rizqiyyah Bahas Keistimewaan Dzikir

Jakarta, KicauNews.com –  Majelis Dzikir Shalawat Rizqiyyah kembali mengelar pengajian rutin bulanan  Minggu pagi (13/03/16). Ratusan jamaah berseragam putih mengikuti Dzikir Akbar yang diselenggarakan rutin setiap Bulan di minggu kedua yang diadakan oleh  pengurus Masjid Baiturrobi yang berpusat di Palmerah Jakbar.

Dzikir Akbar tersebut dihadiri oleh Pendiri Majelis Dzikir Shalawat Rizqiyyah, KH. Mustholimin Al Wiyani, pengurus Majelis Dzikir Shalawat Rizqiyyah, Ustadz Ahmad Ilyas Spdi, Ustadz Kamil Efendi dan para alim ulama setempat.

Kegiatan dzikir dan ta’lim ini dikemas dengan acara pembacaan Qosidah Thowilliyyah oleh tim hadroh Masjid Baiturobbi  pimpinan Ustadz Radiwan, pembacaan surat al Wagiah, dzikir shalawat Rizqiyyah oleh Ustadz Ahmad Ilyas Spdi dan tausiyah oleh Ustadz Kamil.

Ustadz Kamil dalam tausiyahnya membahas keistimewaan Dzikir kepada Allah SWT.
“Dzikir berarti menyebut dan mengingat. Dzikrullah menyebut dan mengingat Allah SWT. Dzikir yang baik mencakup dua makna di atas; menyebut dan mengingat. Dzikir dengan hanya menyebut dengan lisan tanpa menghadirkan hati tetap bisa mendatangkan pahala, namun tentu dzikir macam ini berada pada tingkat yang paling rendah. Dzikir dengan lisan tanpa menghadirkan hati dan pikiran bisa saja memberi pengaruh terhadap hati dan keimanan seseorang, tetapi pengaruhnya tidak sebesar dzikir sambil menghadirkan hati. Paling baik adalah dzikir dengan lisan sambil menghadirkan hati.

Dalam ajaran Islam, banyak kesempatan dan sarana yang Allah SWT sediakan bagi Kaum Muslimin untuk melaksanakan ibadah dzikir ini. Dalam kehidupan Muslim, ada berbagai doa yang bisa dibaca dalam beragam aktivitas dan kesempatan. Mulai dari bangun tidur sampai tidur kembali, hampir seluruh satuan kegiatan ada doa khusus. Paling tidak, dalam setiap aktivitas Muslim secara umum, seyogiyanya dimulai dengan membaca basmalah, yang juga mengandung makna dzikir; menyebut dan mengingat Allah SWT. Rasul Saw bersabda: “Setiap amal yang tidak dimulai dengan nama Allah SWT, maka ia terputus dari keberkahan”. (HR. Abu Dawud).

Baca juga :  Liga Futsal Mahasiswa Bersama Komunitas Aktivis Muda Indonesia, Dijuarai Oleh ITB Ahmad Dahlan 

Ibadah dzikir cukup simpel dan mudah dilakukan. Tidak harus dengan persiapan khusus, tempat khusus dan waktu khusus. Dalam kondisi apapun diperbolehkan, asal tidak pada tempat-tempat yang kotor dan menjijikkan. Seorang Muslim bisa memanfaatkan waktu yang senggang dan kosong untuk berdzikir. Berdzikir bisa dilakukan pada waktu menunggu antrian, waktu menunggu lampu merah, dan seterusanya. Mengisi waktu kosong dengan dzikrullah, bisa membantu seseorang terhindar dari perbuatan sia-sia dan dosa. Karena waktu dan kesempatan yang kosong berpeluang dua hal; kebaikan atau keburukan, positif atau sebaliknya.

Dzikrullah adalah satu ibadah yang sangat mulia dan begitu dianjurkan. Keutamaan dan nilai dari ibadah ini begitu besar dan beragam. Bahkan dapat disimpulkan bahwa sangat tidak sebanding antara upaya dan energi yang dikeluarkan untuk melakukan ibadah dzikir dengan keutamaan yang disediakan. Dzikir adalah ibadah yang tidak begitu memerlukan upaya dan pengorbanan besar.

Al-Qur’an dan Hadits sangat menganjurkan juga mengisyaratkan betapa mulia ibadah dzikir. Allah SWT memerintah Kaum Muslimin untuk banyak berdzikir, tanpa dibatasi jumlahnya. “Wahai orang-orang yang beriman banyak-banyaklah berdzikir kepada Allah. (Al-Ahzab: 41). Dzikir dari sisi waktu pelaksanaannya terbagi menjadi dua; pertama dzikir muqayyad(terikat/tertentu), kedua dzikir muthlak (bebas). Dzikirmuqayyad (terikat/tertentu) dilakukan dengan jumlah yang ditentukan oleh nash hadits. Sebagaimana dzikir setelah shalat lima waktu dengan membaca subhanallah,alhamdulillah, allahu akbar, masing-masing tiga puluh tiga kali, dan ditutup dengan kalimat tahlil satu kali, maka seluruhnya berjumlah seratus, dan disebutkan dalam riwayat lain dengan jumlah yang berbeda.

Adapun dzikir muthlak (bebas ) boleh dilakukan dalam jumlah yang tidak terbatas. Dan adanya pembagian kepada dzikir muthlak (bebas ) ini memberikan peluang bagi Muslim untuk sering melakukan dzikrullah. Sebagaimana Allah SWT memotivasi hal tersebut seraya mengisyaratkan bahwa sering berdzikir adalah kebiasaan atau tradisi orang-orang yang “cerdas”. Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang yang berakal (cerdas). Yaitu orang-orang yang berdzikir (mengingat) Allah dalam kondisi berdiri, duduk dan berbaring. (Ali Imran: 190-191).

Baca juga :  Peringatan 10 Muharram, Kelurahan Larut Santuni Puluhan Yatim dan Dhuafa

Rasulullah Saw juga menjelaskan bahwa dzikrullah menjadi pembeda seorang yang ‘hidup’ dan ‘mati’. Diriwayatkan dari Abu Musa, Rasulullah Saw bersabda: “Perumpamaan orang yang berdzikir mengingat Allah dan yang tidak pernah berdzikir kepadaNya bagai orang yang hidup dan mati”. (HR. Baihaqi). Tentu, maksud hidup dan mati di sini pada sisi hati dan batin. Dalam hadits lain disebutkan: “Sesungguhnya hati itu bisa berkarat sebagaimana besi bila dikenai air”. Rasul ditanya: “Apa penawarnya wahai Rasul?” Rasul bersabda: “Mengingat kematian dan membaca Al-Qur’an. (HR. Baihaqi). Dan membaca Al-Qur’an termasuk  dzikrullah yang paling utama.

Siapa yang senantiasa melantunkan dzikir hatinya bisa hidup, dan sebaliknya siapa yang jauh dari dzikrullah, akan terancam mati hati. Hidup dan mati hati pada selanjutnya akan menentukan moral dan prilaku seorang Muslim. Selanjutnya juga akan menentukan nilai dan kualitas kehidupan seorang Muslim. Berarti bahwa dzikir bisa mempengaruhi kualitas hidup seorang Muslim.

Di akhir acara seperti biasa KH.Mustholimin Al Wiyani mengadakan Bedah Aura kepada Seluruh jamaah Majelis. ( Sutrisno )

Editor : Rahmat Saleh

Print Friendly, PDF & Email
Bagikan :

Komentar

Berita Terbaru