oleh

SALUT, JOKOWI BERHASIL MENDIDIK ANAK-ANAKNYA DENGAN “6 KARAKTER”

Jakarta, Kicaunews.com – Sebagai seorang ayah, sudah sewajarnya dan sepantasnya jika kita selalu memberikan yang terbaik pada buah hati tercinta. Karena tentu saja, seluruh hasil kerja/usaha yang kita lakukan dari pagi hingga malam, dan seluruh pencapaian dalam karier kita, akan kita persembahkan untuk kebahagiaan serta masa depan orang-orang tercinta, termasuk untuk anak-anak kita.

Mari kita telisik sejenak kehidupan pribadi dari Presiden Indonesia ke-7, Joko Widodo atau yang biasa dipanggil Jokowi. Ada yang “berbeda” dari ungkapan kasih sayangnya kepada seluruh anak-anaknya. Perbedaan yang dimaksud adalah ; Jokowi tidak seperti lazimnya pejabat tinggi negara lainnya, yang serta-merta dengan mudah memberikan beragam fasilitas dan kemudahan bagi kehidupan ketiga putera-puterinya, yaitu Gibran Rakabuming Raka (28), Kahiyang Ayu (24), dan Kaesang Pangarep (21).

Kita akan ulas, bagaimanakah perilaku anak-anak “first class” ini dalam menjalani kehidupan pribadinya dan bermasyarakat ? Bagaimana pula pola asuh orang tuanya ? Semoga, kurang dan lebihnya dari ulasan ini, dapat bermanfaat sebagai pembelajaran bagi kita, untuk memberikan kasih sayang dan bentuk perhatian yang terbaik, untuk jantung hati kita. Inilah “6 Karakter” yang menurut saya sukses diterapkan oleh Jokowi kepada anak-anaknya, yaitu ;

1. Jujur

Jujur IlustrasiPada Bulan Desember 2014, atau tepatnya dua (2) bulan setelah Jokowi resmi dilantik sebagai Presiden RI, publik agak sedikit dikejutkan dengan pemberitaan bahwa Kahiyang Ayu, Putri Jokowi, dinyatakan tidak lulus tes CPNS di Pemkot Surakarta, Jawa Tengah ! “Walaupun putri pejabat bahkan putri Presiden tidak mendapatkan hak istimewa terkait dengan kelulusannya. Kita tetap mengacu pada peraturan yang telah dibuat,” tutur Setiawan Wangsaatmadja, Deputi Bidang SDM Aparatur Kemen PANRB. Bagaimana mungkin ? Putri orang nomor 1 di Indonesia, bahkan harus “menghabiskan waktu” ikut tes CPNS dan tidak lulus ? Padahal, jika mau, tentu Kahiyang tinggal meminta jabatan/posisi strategis yang diinginkannya, dan Ayahnyapun tinggal memasukkannya ke jajaran posisi strategis di Republik ini. Tapi hal itu tidak dilakukannya.

Inilah keunggulan karakter pertama yang berhasil diwarisi oleh Putri Jokowi yang akhirnya melanjutkan studi S2 Manajemen Bisnis di IPB Bogor ini. Ia mengikuti tes masuk CPNS dengan prosedur normal dan jujur, tanpa sedikitpun “berusaha” lebih. Jika kita bisa menerapkan pola hidup jujur dan apa adanya seperti ini, maka niscaya anak-anak kita akan tumbuh menjadi pribadi yang bersih dan berintegritas tinggi, karena sejak kecil sudah terbiasa melihat kejujuran orang tuanya, dan sudah dapat mempraktikkan nilai-nilai kejujuran dalam kehidupan sehari-hari.

Baca juga :  KPPG Sebut Rekrutmen Menteri Kabinet Sejalan Dengan Suara Perempuan

2. Amanah
Amanah IlustrasiSikap amanah, yang berarti konsekuen dalam menjalankan tugas dan kewajibannya, serta tidak menyalahgunakan/memanfaatkan wewenang dan kepercayaan yang diemban, untuk diri sendiri/golongannya, wajib dimiliki oleh setiap Aparatur Negara, pada khususnya, dan masyarakat pada umumnya, jika ingin bangsa kita menjadi “negara raksasa” yang hebat. Dan, harus diakui suka-atau tidak, Jokowi berhasil menanamkan sikap amanah ini kepada putera-puterinya. Ia mencontohkannya sendiri pada Bulan November 2014, saat bertolak ke Singapura, untuk menghadiri wisuda putra bungsunya, dari studi program International Baccalaureate, Anglo-Chinese School International (ACSI).Jokowi didampingi istrinya, hanya menggunakan pesawat komersil kelas ekonomi (Garuda Indonesia). Ia beralasan bahwa kunjungannya ke Singapura adalah untuk urusan pribadi, dan dibiayai dari kantong pribadinya sendiri.

Ternyata perilaku sang ayah, ditiru oleh anak-anaknya. Kali ini Gibran, yang sejak lulus dari University of Technology Insearch, Sidney, Australia pada tahun 2010, telah merintis bisnis catering “Chilli Pari” di Kota Solo. Yang unik, Gibran menolak, setiap mendapatkan order dari Pemkot Solo, dengan alasan ; tidak mau mendompleng nama besar dan fasilitas ayahnya yang kala itu menjadi Walikota Solo. Padahal dengan menerapkan pola jual-beli yang wajar dengan Pemkot Solo, sebenarnya tidak ada yang salah jika ia mendapatkan order dari Pemkot Solo, namun, sekali lagi, inilah keberhasilan Jokowi dalam menanamkan nilai amanah dan kemandirian pada anak sulungnya.

3.Sederhana dan Hemat
Sederhana dan Hemat IlustrasiPesta pernikahan Gibran dengan Selvi Ananda pada 11 Juni 2015 lalu, tergolong “diluar kelaziman”. Bagaimana tidak ? Seorang Presiden, menyelenggarakan resepsi pernikahan anaknya, “hanya” di Kota Solo, dengan sarana dan prasarana yang relatif sederhana, dibandingkan dengan Presiden pada umumnya, yang memang berhak menyelenggarakan resepsi di Istana Negara. Bahkan 200 orang tukang becak di Solopun “ikut menikmati pesta” tersebut, dengan kompak berseragam dan bertugas sebagai pengantar tamu undangan ke lokasi resepsi.

Baca juga :  Melestarikan Seni dan Budaya, Ali Mazi Support Adanya Anoa Island

Keheranan publik masih berlanjut, beberapa bulan kemudian, di sebuah Klinik Bersalin Padma Health Centre di Solo. Kehebohan terjadi lagi…..Seorang menantu Presiden di era modern ini, melakukan cek up kehamilannya, “hanya” di klinik sederhana yang bertarif Rp. 50.000,- dan pasangan muda ini tidak mendapatkan pelayanan spesial, mereka (Gibran dan Selvi) harus rela mengantri seperti pasien umum, dan tanpa pengawalan Paspampres !!! Sikap sederhana dan dan hemat, telah mengakar pada diri anak-anak Jokowi. Suatu suri tauladan yang layak dicontoh.

 4.Rukun
Rukun IlustrasiSampai sejauh ini, masyarakat belum pernah mendengar/mengetahui berita-berita miring seputar disharmonisasi anak-anak Jokowi. Ya, karena mereka bisa menerapkan pola hidup rukun dan saling menyayangi satu sama lain. Salah satu kebahagiaan terbesar orang tua dikala usia senja adalah ; menyaksikan anak-anaknya hidup berdampingan dengan rukun. Dan saat orang tua telah tiada, anak-anaknya tidak saling memperebutkan harta warisan orang tuanya, sehingga tuntaslah sudah tugas orang tua selama mendidik anaknya di dunia. Maka berbahagialah jika anak-anak kita bisa hidup rukun dan saling menyayangi satu sama lain, karena disitulah letak kebahagiaan dan keberhasilan orang tua dalam mendidik anaknya. Dan tentu saja amal solih dari anak-anaknya yang rukun tersebut, akan menjadi amal jariyah yang tak akan henti-hentinya, bagi kedua orang tuanya diakhirat kelak.

5. Kompak
Kompak IlustrasiSaat Gibran membuka Gerai Markobar (Martabak Kota Barat), beberapa netizen sempat membullynya, karena bagi sebagian orang, sangatlah “tidak layak”, jika seorang anak seorang Presiden, “hanya” jualan martabak !
Menanggapi omongan nyinyir dari netizen terhadap kakaknya, maka Kaesangpun tidak tinggal diam, seperti yang tertera di akun Twitter di samping, Kaesangpun terlihat kompak dalam “melindungi” sang kakak dari bullying yang dilakukan oleh salah seorang netizen. Dalam hal lain, anak-anak Jokowi ini juga kompak dengan tidak terlalu menyukai pengawalan Paspampres, karena mereka ingin berbaur bebas dengan teman-teman dan lingkungannya, terutama Gibran, yang sempat protes terhadap Paspampres yang selalu mengikutinya. Padahal sudah menjadi protap bagi Paspampres, untuk wajib mengawal keluarga Presiden dan Wakil Presiden dimanapun berada. Ya, mereka bertiga benar-benar kompak dan solid. Orang tua mana yang tidak ingin anak-anaknya kompak ?

Baca juga :  Dinilai Sesuai Target RPJMN, Jokowi Akui Peran Penting BPK

6. Kerjasama yang Baik (Gotong-Royong)
Kerjasama Yang BaikGibran sejak SMP sudah bersekolah di Singapura, dan Kaesang sejak SMA juga menyusul jejak sang kakak. Jokowi menginginkan anak-anaknya bisa mandiri. Dan sewaktu menghadiri wisuda adiknya di Singapore, pada November 2014 yang lalu, Kahiyang Ayu berkata, “Saya bangga padanya, dan memberi semangat selama ia bersekolah disini”. Dan Kaesang juga mengaku mendapat motivasi dari sang ayah, yang sering meneleponnya untuk memberi masukan dan semangat. “Bapak berpesan untuk selalu beribadah,” ujarnya.

Tampak jelas, bahwa hubungan keluarga mereka, walaupun tidak selalu bersama-sama/berdekatan, namun selalu saling memberikan perhatian dan support penuh, serta saling bekerjasama dengan baik dan bergotong-royong dalam mensukseskan studi/pekerjaan satu sama lain. Dan sebagai hasil dari didikan Jokowi terhadap anak-anaknya dengan “6 Karakter” tersebut, dapat kita saksikan bersama, terutama dapat terlihat pada diri Gibran, ia kini tumbuh menjadi pria dewasa yang tangguh dan mandiri, yang pantang menyerah dalam menghadapi perjalanan hidupnya. Gibranpun diakui ayahnya tidak pernah mengeluh terhadap apapun yang dialaminya. “Gibran tinggal di rumahnya sendiri, berjarak 2km dari sini (rumah keluarga di Solo), kecil, yang ia beli dengan cara nyicil (KPR)” Begitulah kata sang ayah, saat menjelaskan kehidupan sang anak pasca pernikahannya.

Demikianlah ulasan dari keberhasilan Jokowi dalam mendidik anak-anaknya, yang telah saya coba ulas dengan objektif. Walaupun para pembaca bebas berpendapat, setuju atau tidak. Yang jelas, saat ini kita membutuhkan suri tauladan dari para tokoh di Republik ini, yang bukan hanya sukses dalam karier dan tugas kenegaraannya, namun yang juga bisa menghadirkan potret kesuksesan dalam pembinaan keluarganya, karena biar bagaimanapun, keluarga adalah “prime customer” kita. Dan keluarga adalah miniatur dari keberhasilan seseorang. Jika seseorang berhasil dalam membina rumah tangga/keluarganya dengan baik, maka Insya Allah iapun akan mendapatkan kemudahan, kelancaran, dan kebarokahan, dalam membina masyarakat luas. Amin

Ayo, mari kita tingkatkan “quality time” bagi keluarga tercinta, melalui “6 Karakter” karena kesuksesan karier seseorang, berawal dari kesuksesan sebuah keluarga.

Hamry Gusman Zakaria
www.MotivasiIndonesia.co.id

Editor : Rahmat Saleh

Print Friendly, PDF & Email
Bagikan :

Komentar

Berita Terbaru