Pesawat Super Tucano TT 3108 Jatuh, Bangkainya 2,5 Meter terpendam ke Dalam Tanah

0
Bagikan :

Jakarta, Kicaunews.com – Pilot Super Tucano, Ivy Safatillah yang jatuh di Jalan LA Sucipto, Malang diberangkatkan ke rumah duka di Yogyakarta dari Skadron 21 Lanus Abdul Saleh, Malang. SUHARTO/MALANGPOST/JPG

MALANG – TNI Angkatan Udara (AU) kembali berduka. Pesawat tempur taktis jenis Super Tucano TT 3108 dari Skuadron 21 yang dipiloti Mayor Pnb Ivy Safatillah jatuh kemarin pagi di permukiman warga di Jalan Laksda Sucipto Gang 12, Kecamatan Blimbing.

Insiden tersebut belum sampai dua bulan berselang dari tragedi sebelumnya. Yakni, jatuhnya pesawat T-50i Golden Eagle milik TNI-AU di pinggiran Bandara Adisutjipto, Jogjakarta, 20 Desember 2015.Pantauan tadi malam, empat korban tewas dan tiga rumah hancur karena tertimpa pesawat buatan Brasil tersebut. Mereka adalah dua personel TNI-AU, yakni Pilot Mayor (Pnb) Ivy Safatillah dan juru mesin udara Serma Syaiful Arief Rakhman. Juga, korban sipil adalah istri pemilik rumah, Erma Wahyuningtyas, 49, dan warga yang indekos di rumah Erma, Nurkholis, 32.

Selain empat korban jiwa, jatuhnya pesawat yang berbobot mati 3,2 ton itu merusak tiga rumah. Kerusakan paling parah dialami rumah Mujianto, 56, warga Laksda Sucipto Gang 12 No 4.Bagian belakang rumah dua lantai tersebut rusak parah. Terutama lantai 2 yang nyaris tidak tersisa. Empat kamar kos juga nyaris runtuh.Saat pesawat jatuh, Erma yang merupakan istri Mujianto, pemilik rumah, dan Nurkholis sedang berada di dalam rumah tersebut.

Saat itu Erma berada di bagian belakang rumah untuk mencuci pakaian. Sedangkan Nurkholis tinggal di kamar atas, persiapan hendak bekerja sebagai tenaga engineering di Persada Hospital. Joshua, saksi mata, mengatakan bahwa saat terjatuh, pesawat tidak meledak. Hanya mengeluarkan asap. ”Tidak ada api yang keluar dari pesawat,” ujarnya.Saat tahu ada pesawat yang jatuh, Joshua langsung mendekat ke lokasi untuk melihatnya. Lalu, dia melihat dua orang dibawa dan dimasukkan ke ambulans. ”Tidak tahu mereka hidup atau tidak,” paparnya.

Sesaat setelah pesawat yang usianya masih sekitar tiga tahun itu jatuh, bau avtur langsung menyebar. Untuk mengantipasi agar tidak terjadi kebakaran, petugas pemadam kebakaran langsung melakukan pembasahan.Pesawat diketahui lepas landas dari Pangkalan Udara TNI-AU Abdulrachman Saleh pukul 09.25. Pesawat terbang dalam rangka test flight (mencoba terbang di ketinggian) serta sesekali melakukan manuver. Itu sehari-hari dilakukan anggota TNI-AU dalam latihan.

Namun, setelah 34 menit terbang atau sekitar pukul 09.59, pesawat tidak bisa dihubungi (lost contact) menara pengawas di Lanud Abdulrachman Saleh. Saat itu pesawat diketahui terbang di ketinggian 25.000 kaki, sebelum menukik menuju ketinggian 15.000 kaki. Sepuluh menit setelahnya atau sekitar pukul 10.09, pesawat menghunjam rumah di Jalan Laksda Sucipto. Insiden itu langsung membuat warga geger. Bersama anggota TNI dan Polri, mereka berusaha memberikan pertolongan.

Pilot Terlempar
Kegemparan tidak hanya terjadi Blimbing, Malang. Warga Desa Tunjungtirto, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang, atau sekitar 8 kilometer dari lokasi pesawat jatuh juga sangat terkejut karena menemukan jasad Ivy.Posisi tubuhnya tengkurap di tengah persawahan warga. Di sebelah jasad Ivy ditemukan kursi lontar. Hanya, parasutnya ditemukan terpisah di Jalan Ikan Tombro Timur, Kelurahan Tunjungsekar, Kecamatan Lowokwaru. Itu sekitar 4 km dari lokasi jasad pilot ditemukan. Diduga, pilot terlambat menekan kursi lontar untuk menyelamatkan diri. Kursi lontar sudah jatuh ke sawah saat parasut belum mengembang sempurna.

Sementara itu, evakuasi bangkai pesawat tidak bisa langsung dilakukan. Sebab, pesawat jatuh di tengah-tengah permukiman warga yang padat. Karena itu, tubuh pesawat terkubur bangunan selama berjam-jam.Sekitar pukul 16.00, backhoe baru masuk ke lokasi. Namun, mulut gang terlebih dahulu harus dijebol. Dua jam setelah itu, bangkai pesawat berhasil dievakuasi.

Saat bangkai pesawat dievakuasi, ditemukan jasad Serma Syaiful yang tertimbun bangunan.

TNI-AU
Jatuhnya pesawat yang dibeli dengan harga puluhan miliar rupiah itu kemarin langsung direspons Kepala Staf TNI Angkatan Udara (KSAU) Marsekal TNI Agus Supriatna. Dia secara khusus datang dan meninjau langsung lokasi jatuhnya pesawat. Bahkan, KSAU juga membentuk tim investigasi untuk mencari penyebab jatuhnya pesawat tersebut. ”Langsung saya bentuk tim, tadi juga langsung ikut ke lokasi,” ujar Agus dalam keterangan pers di ruang VIP Lanud Abd. Saleh kemarin. Pimpinan dalam tim investigasi itu adalah Marsekal Chairil Anwar dari Mabes TNI-AU.

Penyebab utama jatuhnya pesawat asal Brasil itu memang masih menjadi teka-teki. Agus sendiri belum berani menyimpulkan penyebab utamanya. Dari tinjauannya ke lokasi jatuhnya pesawat, hanya sedikit asumsi yang bisa dia sampaikan. Misalnya dugaan bahwa mesin tetap hidup meski pesawat sudah menabrak rumah warga. ”Posisi pesawat itu masuk ke dalam rumah hingga menembus tanah. Sisanya hanya bagian ekor,” tambah Agus.

Dilihat dari kenyataan itu, penyebab jatuhnya pesawat karena tak berfungsinya mesin terbantahkan. Dasar lain coba dianalisis. Salah satunya kemungkinan kesalahan dalam melakukan manuver. Namun, hal tersebut juga belum kuat disebut sebagai penyebab jatuhnya pesawat.Agus menambahkan, setelah take off pukul 09.25, pesawat yang datang di Lanud Abd. Saleh sejak 2012 itu hendak melakukan test flight yang ditujukan untuk melihat performa pesawat. Itu menjadi salah satu rangkaian dalam perawatan pesawat. ”Tiap 50 jam terbang, selalu mendapat pengecekan oli, hidrolis, dan sistem-sistem lainnya,” tambah Agus.

Setelah proses itu rutin dilakukan sebanyak enam kali atau 300 jam terbang, jadwal test flight harus dilakoni. Sejak mengudara, ketinggian terbang terus ditambah oleh pilot. Hingga menyentuh angka 25 ribu kaki. Pada ketinggian itu, performa dalam bentuk beberapa manuver pesawat mulai diuji hingga menembus kecepatan 56 Mach Number (1 Mach: 1.225 km/jam).

Sukses dengan performa itu, ketinggian pesawat mulai diturunkan pada angka 15 ribu kaki. Pada posisi tersebut, Mayor Pnb Ivy Safatillah masih sempat melapor ke petugas pantau di Lanud Abd. Saleh. Laporan itu juga dilakukan untuk meminta izin menjajal performa pesawat kembali. ”Di ketinggian itu melaksanakan profile berikutnya dengan dive angle 30 degrees. Untuk mencari kecepatan 326 Mach Number,” tambah Agus.

Sukses dengan performa itu, ketinggian pesawat diturunkan kembali hingga menyentuh angka 8 ribu kaki. Pada ketinggian itu, seharusnya pilot mengontak tempat pemantauan. Namun, yang terjadi, tak ada lagi komunikasi dari pilot asal Tuban tersebut.Hingga pukul 09.59, pesawat Super Tucano TT 3108 itu resmi dinyatakan lost contact. Beberapa menit kemudian atau sekitar pukul 10.09, Agus memperkirakan ada kegagalan salah satu sistem di pesawat hingga meluncur deras ke bawah. Dua awak pesawat, yakni Mayor Pnb Ivy Safatillah dan juru mesin udara Serma Syaiful Arief Rakhman, dinyatakan meninggal dunia.

Gugurnya sang pilot Mayor Ivy itu benar-benar menjadi duka mendalam bagi Lanud Abd. Saleh. Sebab, dia salah seorang penerbang senior di sana. ”Pilot sudah mempunyai pengalaman terbang 3.000 jam. Dengan pesawat Super Tucano sudah memiliki pengalaman 700 jam terbang,” tambah Agus.

Saat TNI-AU masih mendalami penyebab jatuhnya pesawat Super Tucano itu, untuk sementara aktivitas penerbangan menggunakan pesawat asal Brasil tersebut dihentikan. ”Akan saya evaluasi dan sesuai dengan prosedur akan kita stop dulu,” tegas dia.

Kalau penyebab utama sudah diketahui, barulah pesawat itu bisa dioperasikan lagi. Dengan begitu, sebelas pesawat serupa di Lanud Abd. Saleh dipastikan bakal menganggur untuk batas waktu yang belum ditentukan. Meski begitu, pengadaan pesawat tersebut bakal tetap dilakukan dalam waktu dekat. Tepatnya 29 Februari mendatang, empat pesawat baru bakal hadir kembali di Lanud Abd. Saleh. Hadir beserta engineer dari Brasil, TNI-AU akan memanfaatkannya untuk mencari tahu problemnya juga.

Menhan
Pada kesempatan terpisah, Menteri Pertahanan (Menhan) Ryamizard Ryacudu mengatakan sudah memerintah Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo dan KSAU Marsekal Agus Supriatna langsung melakukan investigasi atas jatuhnya pesawat Super Tucano. ”Biar kita tahu, ini faktormesin, orang, atau cuaca,” ujarnya saat ditemui setelah sidang kabinet paripurna di Istana Negara kemarin.Menurut Ryamizard, pesawat yang jatuh itu termasuk pesawat baru yang diproduksi pada 2012. Dia menyebutkan, pesawat produksi Embraer Defense and Security asal Negeri Samba tersebut juga memiliki reputasi cukup bagus dan sudah digunakan banyak negara. ”Jadi, pesawat ini banyak yang beli,” katanya.

Hingga saat ini, Embraer sudah memproduksi sekitar 190 unit Super Tucano. Generasi sebelumnya, yakni Tucano, sudah diproduksi sekitar 650 unit dan digunakan berbagai negara. Saat ditanya rekor keselamatan Tucano, Ryamizard menjawab selama ini bagus. ”Dari ratusan unit yang terjual itu, ini kecelakaan pertama,” sebutnya.

Dengan rekor keselamatan yang bagus itu, kata Ryamizard, pemerintah belum memutuskan apakah akan meng-grounded pesawat Super Tucano
lainnya milik TNI-AU. Grounded dan evaluasi rencana pembelian Super Tucano lainnya baru akan dilakukan jika investigasi menunjukkan jatuhnya pesawat akibat faktor kerusakan mesin. ”Tapi, kalau masalahnya cuaca atau orang, ya tidak perlu (grounded). Berarti kapasitas orangnya yang diperbaiki,” jelasnya.Sementara itu, ditemui di tempat yang sama, Gatot Nurmantyo mengatakan bahwa keberadaan teknisi bernama Saiful dalam kokpit pesawat Super Tucano memang dimaksudkan untuk mengetahui kondisi pesawat yang baru saja menjalani perawatan setelah masuk 300 jam terbang. ”Itu kan test flight. SOP (standard operating procedure)-nya memang begitu,” ujarnya.

Mesin Bermasalah

Jatuhnya pesawat Super Tucano di Malang bisa terjadi karena beberapa sebab. Antara lain, faktor cuaca, pilot, dan kondisi tekis pesawat. Pengamat penerbangan Alvin Lie menuturkan, di antara tiga aspek itu, yang paling dominan adalah kondisi teknis pesawat atau adanya masalah di mesin atau bagian pesawat.’’Sebab, pesawat tempur memang harusnya tahan cuaca ekstrem. Lalu, untuk pilotnya, pilot pesawat tempur itu juga kemampuannya di atas rata-rata,’’ terangnya.

Karena itu, menurut dia, aspek teknis pesawat perlu diteliti betul. Aspek itu bisa diartikan perawatan pesawat. Perawatan pesawat tersebut dipengaruhi sejumlah hal. Misalnya, anggaran, kedisiplinan mengawasi siklus perawatan, serta keterampilan teknisi. ’’Tiga faktor itulah yang perlu dilihat TNI-AU. Apalagi bila ternyata setelah penyelidikan diketahui penyebabnya adalah faktor teknis pesawat,’’ jelasnya.

Setelah itu, lanjut Alvin, masalah teknisnya harus ditemukan. Apakah berupa minimnya anggaran, kekurangdisiplinan, atau SDM teknisi yang kurang mumpuni. ’’Semua itu perlu dievaluasi secara detail,’’ tuturnya.

Dia menuturkan, bila ternyata anggarannya minim, TNI-AU perlu menambahnya. Sebab, mau tidak mau, anggaran untuk pesawat terbang harus memadai. ’’Jangan sampai karena anggaran yang kurang, yang lain dikorbankan,’’ ujarnya.

Apalagi pesawat TNI-AU kerap jatuh karena masalah teknis. Misalnya, pada 2012 pesawat Fokker 27 jatuh karena mesin bagian kiri tidak berfungsi. Pada 2015 pesawat F-16 jatuh karena mesinnya terbakar. ’’Tentu itu sangat merugikan bangsa dan negara,’’ ungkapnya.

Perlu diketahui, usia pesawat tidak berpengaruh signifikan terhadap performa pesawat tempur bila perawatan telah memadai dan sesuai dengan prosedur. ’’Pesawat baru bisa saja mengalami kerusakan teknis karena tidak dirawat. Namun, pesawat tua, kalau dirawat, tentu tidak akan bermasalah. Karena itu, kunci utamanya pada perawatan pesawat,’’ tegasnya.

Dia berharap TNI-AU bisa meninjau kembali sistem perawatan pesawat dan kedisiplinannya. Selain karena harga pesawat memang begitu mahal, mendidik penerbang pesawat tempur jauh lebih mahal. ’’Penerbang pesawat tempur itu aset berharga bangsa dan negara. Jangan sampai mereka dikorbankan karena masalah kekurangan anggaran dan semacamnya,’’ tuturnya.

Sumber : pontianakpost.com

Bagikan :

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

*