Presiden Minta Pers Untuk Membangun Optimisme

0
Bagikan :

Lombok, Kicaunews.com – Presiden Joko Widodo meminta pers ikut membangun optimisme dan etos kerja masyarakat. Sebagai pilar keempat demokrasi, pers berperan membentuk karakter, moral, dan mental masyarakat.

Presiden mengatakan, terkadang media justru memengaruhi masyarakat jadi pesimistis dan terjebak pada berita sensasional. Presiden mengutip beberapa judul berita di media massa yang menurutnya menakutkan publik.

Misalnya: Indonesia Diprediksi Hancur, Aksi Teror tidak Akan Habis Sampai Kiamat pun, Kabut Asap tidak Teratasi Ria Terancam Merdeka, Indonesia Akan Bangkrut, Rupiah Bakal Tembus Rp15 Ribu, Jokowi-JK Akan Ambruk.

Presiden mengaku tidak terganggu dengan judul-judul tersebut, namun menurutnya, menakutkan publik. Dia mengatakan, judul-judul berita yang berbuntut pesimistis berulang kali dimuat di media.

“Kalau judul seperti ini diteruskan dalam era kompetisi, yang muncul pesimistis, etos kerja tidak terbangun dengan baik, padahal itu hanya asumsi,” kata Presiden saat pidato Hari Pers Nasional di Lombok, Nusa Tenggara Barat, Selasa (9/2/2016).

Hadir dalam perayaan Hari Pers Nasional di Lombok para pemilik media, wartawan senior, Ketua Dewan Pers Bagir Manan, Ketua Persatuan Wartawan Indonesia Margiono, menteri Kabinet Kerja, kepala lembaga tinggi negara, kepala daerah, tokoh masyarakat, dan tokoh agama.

Presiden melanjutkan, ini era kemerdekaan pers. Setiap hari masyarakat disuguhi data, opini, dan beragam informasi. Menurut Presiden, di era ini informasi sangat mudah beredar, status di media sosial pun bisa jadi bahan pemberitaan.

“Informasi ada yang pahit seperti jamu ada yang bisa jadi vitamin menyehatkan tapi juga bisa hanya sekadar informasi yang kadang mengganggu akal sehat kita,” ujar dia.

Presiden mengatakan, membangun kepercayaan salah satu aspek penting untuk bisa bersaing dengan negara lain. Investasi akan mengalir ke dalam negeri bila ada kepercayaan. Media sangat berperan membangun kepercayaan melalui pemberitaan.

Presiden juga menyoroti kepatuhan jurnalis kepada kode etik. Dia mengatakan, banyak media massa mengabaikan kode etik pemberitaan demi mengejar kecepatan. Sehingga berita tidak akurat, tidak berimbang, dan mencampuradukkan fakta dengan pendapat.

“Kadang menghakimi sesorang, ini berbahaya sekali. Kalau dulu, tekanan kepada pers dari pemerintah, sekarang terbalik pers yang menekan-nekan pemerintah. Yang menekan media siapa? Ya industri pers sendiri karena ada persaingan,” tegas Presiden.

Presiden meminta media menghindari hal-hal seperti itu dalam rangka membangun optimistis, etos kerja, dan kepercayaan. “Saya harap pers tetap dipercaya publik sebagai pilar keempat demokrasi dengan menghadirkan informasi yang jujur, akurat, dan objektif,” kata Presiden.

Sumber : http://news.metrotvnews.com/read/2016/02/09/481390/presiden-minta-pers-membangun-optimisme

Bagikan :

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

*