oleh

Skala Survei Insonesia

Jakarta, kicaunews.com — Direktur Eksekutif Skala Survei Indonesia (SSI) Abdul Hakim menyampaikan paparan Evaluasi Hasil Pilkada 2015, Hegemoni Petahana dan Masa Depan Demokrasi Kita bertempat di Resto Gado-Gado Boplo Jl. Gereja Theresia Menteng Jakarta, selasa (26/1/16).

Wilayah penelitian dilakukan di 32 provinsi seluruh Indonesia yang menggelar pilkada 9 Desember 2015. Jumlah.sampel yang dianalisa adalah 257 wilayah dari 264 wilayah yang dianalisa dengan margin of error -+1%. Jumlah sampel adalah 97,35% dari populasi.

Sebagian besar sumber data diperoleh dari Komisi Pemilihan Umum (KPU) yang dipublikasikan di http://pilkada2015.kpu.go.id per 18 Januari 2016. Metode sampling purposive sampling. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah input data langsung dari web KPU http://pilkada2015.kpu.go.id dan sumber-sumber data lain yang terpercaya.

Jumlah pasangan calon yang maju dalam pilkada 2015, yang terbanyak adalah tiga pasang calon yakni 37,4%, disusul dua pasang 32,7%, empat pasang 19,1%, lima pasang 6,6%, enam pasang 1,9%, tujuh pasang 0.8% dan delapan pasang 0,4%. Sementara calon tunggal ada sebanyak 0.8%.

Dari seluruh wilayah yang menggelar pilkada 2015, sebanyak 13,2% berada diwilayah administrasi kota, 83,7% di wilayah administrasi kabupaten dan 3,1% di wilayah administrasi provinsi.

Jumlah partisipasi pemilih yang menyumbangkan suaranya dalam pilkada 2015, wilayah dengan partisipasi di bawah 50% ada sebanyak 0,8%. Sedangkan tingkat partisipasi 50-70% ada sebanyak 49,8%. Sementara tingkat partisipasi di atas 70% ada sebanyak 49,4%.

Tingkat partisipasi terkecil (<50%) ada di pulau sumatera yakni 2,4% (Kota Medan dan Kota Batam). Sementara tingkat partisipasi tertinggi .(>80%) yang terbanyak ada di pulau papua yakni 52,9%.

Calon independent yang maju dalam pilkada 2015 ada sebanyak 35,0%. Dari jumlah tersebut 77,8% berada di wilayah yang memiliki jumlah DPT di bawah 500 ribu. Sementara 22.2% berada di wilayah dengan jumlah pemilih di atas 500 ribu.

Baca juga :  Opcikon Polsek Pagedangan, Ungkap 30 Butir Obat Berjenis Koplo

Calon independen yang maju dalam pilkada 2015 ada sebanyak 35,0%. Dari jumlah tersebut yang menang sebanyak 14,4%. Sementara yang kalah 85,6%.

Calon independen yang memenangkan kontestasi, yang terbanyak ada di pulau.NTT (33,3%) dan pulau Kalimantan (22,2%). Sementara di NTB dan kepulauan Maluku tak ada satupun calon independen yang bisa memenangi kontestasi.

Di pulau Jawa tingkat kemenangan calon independen sebesar 11,1%. Sementara di luar pulau Jawa tingkat kemenangan calon independen sebesar 15,3%.

Calon independen yang memenangkan di wilayah administrasi Kota sebesar 31,3%. Sedangkan di wilayah administrasi Kabupaten sebesar 11,1%. Sementara diwilayah administrasi provinsi tidak ada yang menang.

Calon petahana yang maju dalam pilkada 2015 ada sebnayak 82,5%. Dari jumlah tersebut mayoritas petahana bisa memenangi kontestasi yakni sebanyak 63,2%.

Jumlah petahana yang bisa memenangi kontestasi yang terbanyak ada di pulau NTT yakni 85,7%. Disusul pulau Jawa 76,6%, NTB dan Bali 66,7% dan Sulawesi 65,5%. Sementara petahana yang kalah terbanyak ada di pulau Papua yakni 54.5%. Disusul pulau Kalimantan 50.0%, kepulauan Maluku 42,9% dan pulau Sumatera 40,8%.

Untuk pulau Jawa, petahana yang menang sebanyak 76,6% dan kalah 23,4%. Sementara luar pulau Jawa petahana yang.menang ada sebanyak 59,4%.dan yang kalah sebanyak 40,6%.

Untuk wilayah administrasi Provinsi, jumlah petahana yang bisa memenangi kontestasi ada sebanyak 71,4% dan yang kalah 28,6%. Sedangkan untuk wilayah administrasi kabupaten, petahana yang menang sebanyak 60,9% dan yang kalah 39,1%. Sementara untuk wilayah administrasi Kota, petahana yang menang sebanyak 74,2% dan yang kalah 25,8%.

Jika dilihat dari besaran daftar pemilih tetap (DPT), semakin besar jumlah DPT semakin besar kemungkinan petaha untuk memenangi.kontestasi dan semakin kecil pula peluang calon non petahana untuk menang. Begitu juga sebaliknya.

Baca juga :  Dalam Rangka Pengamanan Rapat Pleno Rekapitulasi Kapolsek Cisauk berkunjung Ke Camat Setu

Proporsi menang kalah partai politik dalam mengusung pasangan calon pada pilkada 2015 adalah Nasdem 50,8% : 49,2%, PKB 41,4% : 58 6%, PKS 52,4% : 47,6%, PDIP 49,0% : 51,0%, Golkar 40,9% : 59,1%, Gerindra 42,5% : 57,5%, Demokrat 40,7% : 59,3%, PAN 43,1% : 56,9%, PPP 47,0% : 53,0%, Hanura 34,9% : 65,1%, PBB 45,6% : 54,4% dan PKPI 43,7% : 56,3%.

Berdasarkan jumlah koalisi rata-rata parpol yang menang berkoalisi antara 2 – 5 partai. Sementara parpol yang menang dengan tanpa koalisi ada 6 yakni PDIP,.PKB, PPP, Demokrat, PAN dan Nasdem.

Dari 6 parpol yang menang tanpa koalisi mayoritas berasal dari calon PDIP 63,3%, PKB 13,6%, Demokrat 9,1% dan PAN, PPP, Nasdem 4,5%.

Tingkat partisipasi masyarakat Indonesia memberikan suaranya (vouter turnout) pada pilkada 2015 bisa dikatakan cukup baik. Sebanyak 50% wilayah memiliki voter turnout di atas 70% (ambang batas ideal versi institute for democracy and electoral assistance/ IDEA terkait partisipasi pemilih di negara demokrasi. Sementara 50% wilayah lainnya juga memiliki tingkat partisipasi antara 50 -70%.

Yang menarik adalah soal calon petahana. Dari 82.5% calon petahana yang ikut dalam pilkada 2015 mayoritas 63,2% bisa memenangi kontestasi. Pertanyaannya adalah kenapa petahana bisa begitu superior?.

Menurut hemat saya posisi start antara calon petahana dan non petahana sangat berbeda terkait sosialisasi kepada pemilih. Calon petahana telah memiliki waktu yang sangat panjang yakni selama lima tahun ketika ia berkuasa untuk melakukan pendekatan kepada pemilih.

Sementara calon non petahana pada umumnya hanya memiliki waktu satu atau dua tahun. Bahkan ada yang hanya memiliki waktu 3 sampai 5 bulan saja untuk menyampaikan program-programnya.

Biasanya parpol pengusung paslon akan memilih calon yang sudah memiliki elektabilitas baik. Dan biasanya yang memiliki elektabilitas baik itu petahana.

Baca juga :  Kepala Dinas Disdikbud Kota Tangsel, Minta Semua Guru PAUD Segera Pembinaan

Selain itu ada fakta menarik lainnya. Petahana memiliki kemungkinan lebih sulit dikalahkan di wilayah yang memiliki jumlah pemilih besar.

Adanya hegemoni petahana ini tentu menjadikan demokrasi kita tidak berjalan ideal. Padahal inti utama dari demokrasi adalah adanya persaingan agar terjadi sirkulasi kekuasaan politik tidak secara ajeg. Karena keajegan penguasa akan berbuntut pada politik tirani dan politik dinasti pungkasnya.(Sunarto)

Facebook Comments
Print Friendly, PDF & Email

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

Berita Terbaru